Bapak yang Saya Kenal

Apakah masa SMA anda dijalani dengan tradisi yang sama dengan masa SMA saya? Bukan, saya tidak sedang bicara tentang masa pacaran atau masa tawuran. Tradisi di SMA saya adalah menggunakan nama ayah sebagai bahan bercanda.

Saya menjalani masa SMA mulai tahun 2000. Anda masih ingat lagu dangdut yang paling terkenal pada awal 2000an? Iya, judulnya Bang Thoyib. Kebetulan nama bapak saya sama dengan sang tokoh utama yang tak pernah pulang dalam lagu tersebut. Anda bisa membayangkan sendiri betapa deras terpaan tawa hinaan yang saya terima pada masa itu…

Almarhum bapak saya adalah haji pertama di desa saya yang cenderung bercorak abangan. Beliau juga yang memulai pendirian masjid di bagian utara daerah tinggal kami di desa Tumpuk kelurahan Tangkil kabupaten Blitar. Beliau yang bergelar BA atau sederajat sarjana muda ini juga mengajar para guru Pendidikan Agama Islam yang mencari gelar S1. Posisinya di masyarakat menyebabkan saya menjalani masa kecil yang lumayan keras.

Misalnya saat saya kelas 5, ada satu pertanyaan saat ulangan yang takkan pernah saya lupakan. Isi pertanyaannya adalah:
Apakah ibadah yang menghilangkan jarak antara si kaya dan si miskin?
A. Puasa
B. Haji
C. Salat
D. Zakat

Waktu itu, saya menjawab haji. Sang guru agama serta-merta menyalahkan saya. Menurut beliau dan kunci jawaban, jawabannya adalah zakat. Tak lupa ia sedikit mencemooh saya karena beliau adalah salah satu murid bapak. “Katanya anaknya gurunya guru agama, masak jawab pertanyaan begitu saja salah. Dari mana bisa ibadah yang menghilangkan jarak orang kaya dan orang miskin kok haji?!” kurang lebih begitu cemoohan yang ia berikan. Teman sekelas tertawa terbahak-bahak.

Sayangnya saya waktu itu belum bisa menyampaikan alasan kuat bahwa justru zakat yang membentangkan jarak antara si kaya dan si miskin. Jarak itu akan muncul karena identitas si kaya dan si miskin akan jelas; si pemberi zakat itu yang kaya dan yang menerima itu yang miskin. Bandingkan dengan haji yang menghapus perbedaan karena semua orang akan berbaju sama, beribadah sama, di tempat yang sama. Beda di oleh-oleh saja. Perkara orang miskin bisa dapat duit untuk haji dari mana, itu di luar konteks pertanyaan. Bisa saja dari undian, sumbangan, atau dari manapun.

Beberapa hari kemudian, bapak memanggil saya dan bercerita kalau pak guru agama bercerita soal pilihan jawaban saya di kelas. Bapak tidak menyalahkan pilihan saya. Beliau hanya menyuruh saya untuk lebih berani mengajukan pendapat di kelas supaya tidak kelihatan asal jawab.

Sebagai anak kecil yang hidup di pedesaan, tidaklah keren kalau belum berani merokok. Saya mulai mencoba rokok saat kelas 2 SD secara sembunyi-sembunyi di hutan bambu bersama seorang kakak sepupu. Pada suatu waktu ketika saya sedang berlatih merokok, ada seorang tetangga yang lewat dan saya lari bersembunyi di semak-semak. Tapi terlambat. Dia mengenali badan saya yang memang lebih gemuk dibandingkan anak-anak kecil lain di situ. “Heh, kamu Arik ya? Kamu merokok ya?” dia bertanya kepada saya yang sedang bersembunyi di kerimbunan daun. “Bukan, saya bukan Arik,” jawab saya takut-takut. Pilihan yang bodoh. Dia mengenali suara saya dan melaporkan ini ke keluarga.

Malamnya, saya disidang oleh bapak dan ibu di ruang keluarga. Bapak saya memang pernah merokok, tapi dia berhenti setelah menjalani operasi usus buntu. Waktu itu, ibu saya memarahi saya habis-habisan. “Kenapa kamu merokok? Mau jadi apa kamu merokok?” ibu mencecar saya dengan pertanyaan. Bapak menimpali pelan, “kalau aku sih merokok karena kakekmu dulu punya pabrik rokok, jadi ya wajar…” Hehehe ternyata hal ini sukses membuat ibu mengalihkan amarah ke bapak. Mereka berdebat sendiri dan saya bisa kabur dengan aman.

Saya selalu menganggap bahwa bapak adalah orang yang cuek. Pada saat kenaikan ke kelas 3, saya gagal masuk IPA karena nilai Matematika saya 6. Saya takut setengah mati saat pulang. Bahkan ibu saya tidak berani menemani saya menghadap bapak untuk memberitahu soal saya yang gagal masuk IPA. Jadi saya sendirian menemui bapak yang sedang tidur siang. Saya bangunkan beliau pelan sambil bilang kalau saya gagal masuk IPA. Ayah saya membuka mata, bertanya “tapi masih naik kelas kan?” Setelah saya mengiyakan, diapun membalik badan dan meneruskan tidur siangnya. Saya menyesal kenapa tadi harus takut.

Waktu kuliah di Malang dan memasuki semester akhir saat mengerjakan skripsi, sayapun menjalani hidup santai. Karena sudah tidak ada kuliah saya bangun siang hampir setiap hari. Hingga pada suatu hari, saat jam 8 pagi, pintu rumah saya di Malang diketok orang. Untung saya sudah bangun. Ternyata bapak datang dari Blitar. Dengan mengendarai sepeda motor menempuh jarak 60an kilometer, ia datang mengunjungi saya. Padahal waktu itu, usianya sudah sekitar 63 tahun. “Di mana tempat makan yang enak di sekitar sini?” adalah pertanyaan yang ia ucapkan. Lalu saya mengajak beliau makan di warung di dekat rumah. Kami makan berdua sekitar 30 menit. Kemudian dia memberikan uang 100 ribu, lalu segera pulang ke Blitar lagi. Jam 12 siang, ibu SMS saya kalau bapak sudah sampai di rumah Blitar.

Oh ya, sekitar tahun 1998, saat gelombang gerakan reformasi menghancurkan rezim Orde Baru, sosok yang sering muncul di televisi adalah Amien Rais. Entah kenapa saat itu setiap Amien Rais muncul di TV, bapak langsung mematikan TV. Menunggu beberapa saat, lalu menyalakannya lagi. Jika Amien Rais masih ada di layar kaca, TVnya akan segera mati lagi. Dahulu saya tidak berani bertanya alasannya.

Nah, kisruh pemilu presiden tahun 2014 ini akhirnya memberikan sedikit penjelasan atas perilaku bapak dahulu.

Ada ungkapan yang isinya janganlah menyesali apa yang kita lakukan di masa lalu. Tapi jika memang harus ada penyesalan, mungkin penyesalan terbesar saya adalah gagal menyelesaikan skripsi saat bapak meninggal 16 Januari 2008. Bapak yang berusia 64 tahun waktu itu sepertinya terlalu capek setelah menjalani hajinya yang ketiga di bulan Desember 2007. Beliau hanya semalam di rumah sakit dan meninggal sekitar jam 5 pagi.

Saat membenahi barang-barang bapak, saya menemukan dompetnya. Ternyata orang yang selama ini saya anggap cuek itu menyimpan foto kami sekeluarga. Di dalam raknya, tersimpan rapi pula foto anak-anaknya mulai kecil hingga dewasa. Tak lupa di dalam dompetnya, ia menyelipkan foto ibu saat muda dan saat ibu tua.

Sungguh saya rindu beliau.

Munir

Tak banyak yang saya tahu tentang almarhum Munir, SH. Kebanyakan pengetahuan yang saya dapat hanya berasal dari media massa, kultwit, dan Chirpstory. Nyaris tidak pernah dari sumber pertama atau kedua.

Long Live Munir.
Long Live Munir.

Ehm, sebenarnya saya punya dua sumber selain media. Dan kebetulan keduanya adalah orang TNI.

Pemberi informasi pertama adalah saudara teman. Kami bertemu saat teman saya menikah dan kami ngobrol panjang lebar menunggu pagi. Si tentara muda yang penuh semangat ini berpangkat prajurit.

Sumber kedua, seorang perwira berpangkat kolonel. Kami membicarakan hal ini saat mulai kehabisan obrolan basa-basi di tengah macetnya tol Cikampek di kala hujan di Sabtu sore. Sesaat setelah saya menjadi interpreter beliau di acara latihan bersama dengan tentara Amerika Serikat di Bogor. Bapak yang baik ini mengantar saya ke rumah pacar saya.

Sumber pertama
Munir adalah seorang keturunan PKI yang meresahkan rakyat. Karena dendam atas kematian keluarganya sekitar tahun 1966, para anggota keluarga partai komunis ini akan terus berusaha membuat tentara tidak tenang. Mereka akan selalu berusaha merecoki tentara. Salah satunya Munir lewat Kontras dan HAM-nya. Akhirnya, Munir dibunuh oleh operasi rahasia yang dilakukan oleh Kopassus.

Sumber kedua
Saya pribadi berpendapat bahwa Munir adalah orang yang dibutuhkan oleh TNI sebagai kontrol supaya tetap berada di jalur yang benar sebagai pengayom masyarakat. Saya mengenal Munir secara pribadi waktu saya bertugas di Malang. Saat ia meninggal, saya melayat ke rumah duka dan saya turut mengantarkan jenazahnya ke makam.

Wallahua’lam bisshawab*

*Enak juga ya menutup artikel dengan tulisan ini heheheh.

Iki Loo Malang 2: A Brave Statement

Iki Loo Malang is a strong statement: This Is Malang. Sounds fascist or chauvinistic? Well, I believe that Standup Indo Malang doesn’t really mean that way. We just want to shout loudly and proudly that our community never stop creating fruitful talents.

Iki Loo Malang is an annual event performing some comics who had acknowledged achievements. The basic requirement for the members of Standup Indo Malang to stand on this stage is to win a competition or two. Yes, we have a lot of standup competitions here. There have been some local, regional, and national competitions we have taken part in.

This year appeared 7 comics on the stage of the Iki Loo Malang 2. I will give you a glimpse as the DVD will be available for you to buy.

Muhammed Sabeq

A State Islamic University of Malang student. Dainty boy. Surely it is an irony considering his Makassar roots and its stereotypes. Haha. He won Metro TV on Campus competition held at University of Muhammadiyah Malang. Yesterday evening, he performed some pacey materials ended in the 8th minutes.

Sabeq The Makassar Guy
Sabeq The Makassar Guy

I guessed that was also a statement that he was a Makassar guy. At full throttle, he delivered bits about religions and his perspectives as a future Islamic scholar.

Juned aka Junetawa

He works as a labor when common teenagers of his age do ora et labora. A pure Malangese who loves Arema more than he loves his girl. Anyway, he hasn’t been taken since the last Indonesian Minister of Public Works ran the office. He championed a competition held during a nobar event for the World Cup Final at Lapangan Rampal Malang. Nobar, a short for Bahasa Indonesia phrase nonton bareng -watching together, is an Indonesian local genius heritage that the people gather together and watch live match on a big screen. Commonly it is football match.

Juned Rose
Agus Junaidi Rose

Juned took the first place on the standup competition. On Iki Loo Malang 2, he performed well. I didn’t notice anything wrong. The problem was just his Axl Rose-ish outfits.

Ryan Pratama

A mixture of some things. Some contraries compiled in one person. First, his Chinese race vs his Islamic faith. Second, he is a boy vs he is pretty. He won a standup competition in Surabaya held by Unipa and Kompas TV. He totally owned the final as I watched him on the stage at Unipa.

Beautiful Boy
Beautiful Boy

In Iki Loo Malang, he performed quite well. But surely I knew he could do better. I know him very well. Come on, Ryan, show the world that being funny is not the basic human rights for the uglies.

Rahadyan Kukuh

An old student of faculty of law. He was born in Makassar, then moving around Indonesia as a kid following his father. His achievement was once being aired on Metro TV Standup Comedy Show. This was a nice achievement as just few fellow comedians from provinces outside Jakarta and West Java had this chance.

Kukuh On Stage
Kukuh Performing

The most memorable scene from his acts on Iki Loo Malang stage was just the way he entered the stage. Just that. Hahaha. Frankly speaking I didn’t watch him performing as I needed to do something else as the part of the stage crews.

Fariz Syahtria

The finalist of Street Comedy Competition at Standup Festival 2013 in Jakarta. Some people recognized him as an absurdly mischief comic. I would say the same. He is a student of Brawijaya University and now he is in an internship program at a national bank branch office.

Fariz Loves The Prophet
Fariz Loves The Prophet

In Iki Loo Malang, he walked to stage and danced along with the music of the remix version of Cinta Rasul (Loving the Prophet Muhammad, a famous Islamic song for kids). Fariz was applauded a lot by the audiences. One of the best performers of the night.

Dani Aditya

The member of Standup Indo Malang appeared on the stage of the Grand Final of SUCI (Standup Comedy Indonesia) Competition Season 4 on Kompas TV. That was a precious evening for Malang as two of the performers were the member of Standup Indo Malang. The first one was Abdur as the grand finalist. Second one was Dani as the guest comic. Well, he is a comic gifted with disabilities. And yes, they are given gifts. To make the audiences laugh, he just needs to produce one or two sentences making fun of himself and his disabilities. He won the Golden Ticket during the audition stage but unluckily he wasn’t called to take part in the competition. In the very evening of the Grand Final, he won people’s heart. I was there to witness him made thousands people standing-applauded him in the end of his performance.

Dani The Chairman

In Iki Loo Malang, as predicted, he did well. People love him. Yes, people sympathize other people with disabilities. It’s normal. But people more likely will absolutely love those who have heartwarming courage and passion to entertain the others.

Arie Kriting

The third champion of SUCI Kompas TV Season 3. Now he is known as the star of some TV shows. Enough said. On the stage of Iki Loo Malang 2, of course, he performed superbly well. He was on stage for more than 20 minutes.

The LIVING LEGEND
The LIVING LEGEND

That gig was his first standup comedy show after he had hiatus for some months due his works on TV.

Sakti Wawan

He was the host of the show. Actually, the real star of Iki Loo Malang was him. I will explain the way the father of one daughter hosted the show in one single sentence.

Iki Loo Wawan
Iki Loo Wawan

As the stage crew coordinator, I warned him to not go too far or the performers would be seen less funny than him.

However, I couldn’t cover all of the story of Iki Loo Malang 2 as I had to do some things during the show. I believe that this event was the most memorable event we have held so far. The concepts, the executions, the lighting, the sound systems, the opening ceremony, all of them were the best we have ever had, thanks to Mr Kholiq Shaan. You are the boss, Mr Shaan my lord.

Buy the DVD and you will know that This Is Malang.

*all photos are taken by Wildan Hafidz (@whafidz)

Para Penghibur Juga Perlu Dihibur

Seperti dilantunkan oleh dewa yang menguasai bumi ini dekade 90an, serve the servants. Pelayanpun perlu pelayanan. Begitu juga para artis dan penghibur yang selama ini kita temui selalu bergembira dan bercanda di layar gelas dan layar lebar.

Hari ini diawali dengan kabar duka meninggalnya Robin Williams. Salah satu komedian, artis, bintang film yang telah menginspirasi dan menghibur milyaran penduduk dunia. Pria yang pernah menjadi seorang dokter yang ceria dan bahkan menggratiskan layanan kesehatan di rumah sakitnya di Patch Adams. Aktor yang memerankan seorang psikiater hangat yang mampu meluluhlantakkan ego seorang jenius menyebalkan di Good Will Hunting. Seorang guru penuh semangat dan menyuntikkan energi positif kepada murid-muridnya untuk mencintai sastra di Dead Poets Society. Tak lengkap menjadi penghibur di Amerika Serikat jika belum berdiri di atas panggung standup comedy. Sang pemenang Oscar inipun juga dikenal sebagai standup comedian andal.

Sepertinya nampak bahwa hidup beliau ini baik-baik saja, kaya, penuh canda tawa, bahagia, dan menyenangkan. Tetapi kenyataannya berbeda. Karir pria kelahiran Chicago ini dibayang-bayangi obat terlarang. Dia juga mengakui dengan terbuka bahwa ia selama ini berjuang melawan kecanduannya dengan kokain dan alkohol. Hingga akhir hidupnya, pria berwajah jenaka inipun menyukai kehidupan gemerlap pesta.

Tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Para pelawak kita juga akrab dengan obat-obatan terlarang. Dari daftar 11 komedian terkenal yang mati muda, lebih dari separuhnya meninggal karena obat-obatan terlarang.

Saya selalu berpendapat bahwa manusia memerlukan duka dan kesedihan sebagaimana kita membutuhkan tawa dan kegembiraan. Para penghibur ini dituntut untuk menghibur orang lain tanpa peduli bahwa, mungkin, sebenarnya mereka sedang bersedih. Apalagi jika mereka adalah pengisi acara live di stasiun televisi seperti Facebookers, Opera van Java, Inbox, dan sejenisnya.

Logika saya seperti ini; jika para pelawak ini bisa memberikan hiburan yang luar biasa dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat, kenapa ia harus repot-repot menghibur dirinya sendiri dengan obat-obatan dan alkohol? Ya, karena mereka perlu tampil bahagia bahkan saat mereka sebenarnya sedang sedih.

Jadi jika anda sedang bersedih, bergembiralah karena anda masih manusia normal yang masih berkesempatan untuk sedih. Tidak usah memakai narkotik untuk menghilangkan kesedihan karena barang berbahaya itu sama sekali tidak keren.

Betul, saya tahu para anggota The Beatles memakai narkotik. Saya juga tidak akan memakai argumentasi agama karena itu termasuk logical fallacies. Alasan saya untuk mendorong anda menghindari narkotik sederhana sekali: apakah anda ingin termasuk golongan yang sama dengan Andika Kangen Band?

Arema dan Julukan Singo Edan

Postingan ini dibuat berbarengan dengan ulangtahun Arema ke-27. Sebagai orang Blitar yang mencari makan di kota Malang, tak sopan rasanya jika saya tidak menghormati klub sepakbola berjuluk Singo Edan ini. Jadi untuk memperingati ulangtahun Arema, berbekal hasil obrolan di warung-warung kopi, saya hendak bercerita makna julukan Singo Edan.

Nama Singo Edan sendiri bisa berarti macam-macam. Bisa diartikan bahwa Arema adalah klub yang sekuat singa. Bisa juga berarti Arema adalah tim yang seperti si raja hutan dan diharapkan Arema mampu menguasai liga Indonesia. Kata Edan sendiri, menurut saya, bisa ditarik ke arah pengertian bahwa kalau entitas singa saja kurang. Kata edan mengandung makna yang lebih dari sekadar singa. Jadi alih-alih edan diartikan kurang waras atau sejenis penyakit kejiwaan, edan diarahkan ke pengertian kondisi yang hebat dan lebih dari sebatas biasa. Itu pengertian standar. Hasil obrolan dengan bapak-bapak penduduk Malang senior memberikan pandangan lain.

Masih ingat pelajaran sejarah/PSPB di bangku SMP tentang istilah Candra Sengkala? Contoh yang paling sering dipakai untuk kalimat Candra Sengkala yang menunjukkan suatu waktu tertentu adalah waktu runtuhnya Majapahit. Kejatuhan kerajaan besar ini ditunjukkan oleh kalimat Sirna Ilang Kertaning Bumi.

Sirna berarti 0, ilang (hilang) juga bermakna 0, kertaning maksudnya 4, sedangkan bumi itu 1. Jadi, kalimat Sirna Ilang Kertaning Bumi menunjukkan bahwa Majapahit runtuh pada tahun 1400 caka. Untuk lebih jelasnya mengenai Candra Sengkala, bisa dilihat di bawah ini.

Diambil dari http://rovicky.wordpress.com
Diambil dari http://rovicky.wordpress.com

Sirna dan ilang dengan mudah bisa ditebak menunjukkan angka 0. Kertaning itu ada yang mengartikan membuat atau menjadikan. Sedangkan angka 1 diwakili oleh kata bumi yang jumlahnya memang cuma 1. Aturan baku dalam membuat Candra Sengkala adalah penulisan angka tahunnya dari belakang ke depan. Maka Sirna Ilang Kertaning Bumi itu menunjukkan angka tahun 1400, bukan 0041. Contoh Candra Sengkala yang lain misalnya seperti ini.

1. Lambang kraton Yogya –> Dwi Naga Rasa Tunggal melambangkan tahun 1682
2. Kabupaten Banyumas –> Bektining Manggala Tumataning Praja melambangkan tahun 1582
3. Kabupaten Sleman —> Rasa Manunggal Hanggatra Negara melambangkan tahun 1916 (Masehi)
4. Kabupaten Sleman —> Anggata Catur Salira Tunggal melambangkan tahun 1846 (tahun Jawa)
5. Kabupaten Pati —> Kridaning Panembah Gebyaring Bumi melambangkan tahun 1323

Dalam kasus penamaan Singo Edan ini, tidak dipakai Candra Sengkala murni. Penjelasannya seperti ini: Singo menunjukkan zodiak Leo karena Arema lahir di bulan Agustus. Sedangkan Edan menunjukkan angka tahun 87. 87 sendiri diambil dari buku tafsir mimpi yang biasanya dipakai untuk panduan judi toto gelap.

komik tradisionil
komik tradisionil

Nah, akhirnya dari kata Singo Edan bisa ditarik kesimpulan bahwa Arema lahir di bulan Agustus 87.

Oh ya, metode mengingat angka seperti ini sangat penting untuk saya yang lemah dalam bidang angka. Pada saat saya melamar kerja tahun 2009 silam, saya sempat mendapat pertanyaan paling maha standar dalam wawancara kerja; mau minta gaji berapa. Saya menjawab, asal di atas UMR, saya yang baru saja lulus dan belum wisuda ini sudah ikhlas. Si pewawancara merasa mendapat angin dan langsung bertanya berapakah UMR kota Malang tahun 2009. Pertanyaan yang jawabannya sangat mudah.

Jawabannya adalah Rp945.373,00. Bisa dicek di laman BKPPM ini. Sang pewawancara heran kenapa saya menghafalkan hal setidak penting ini.

UMR

Padahal cara mengingatnya semudah menyadari kenyataan bahwa besaran gaji di kisaran angka tersebut bisa membuat karyawan yang menanggung cicilan rumah, motor, dan sekolah anak akan sempat mati juga.

SEMbilan emPAT liMA TIga tuJUh tiGA.

Indomitable: Tak Satupun Bisa Mengalahkan Godaan Sepiring Indomie Yang Sudah Tersaji di Atas Meja

Indomitable adalah kata sifat yang berarti tak terkalahkan, mustahil ditundukkan. Kata ini diambil dari bahasa Latin indomitabilis, yang disusun dari kata in- + domitare yang berarti tidak + jinak.

definisi menurut Merriam Webster
definisi menurut Merriam Webster

Kata ini dipakai sebagai julukan timnas Sepakbola Kamerun yang menyebut dirinya The Indomitable Lions. Sebagai negara yang melahirkan nama-nama tangguh seperti Samuel Eto’o, Roger Milla, Rigobert Song, Patrick Mboma, Jacques Songo’o, Pierre Njanka, Olinga Atangana, Tibidi Alexis, Mbom Mbom Julien, dan Ebanda Timothe, julukan Singa Tak Terkalahkan layak melekat di tim langganan Piala Dunia ini.

Kamerun Dengan Samuel Eto'o Sebagai Kapten Sekaligus Tulang Belakang Tim
Kamerun Dengan Samuel Eto’o Sebagai Kapten Sekaligus Tulang Belakang Tim

Nah, cara mengingat kata indomitable ini mudah sekali. Semudah kita tergoda akan Indomie yang tersaji di atas meja saat hujan turun di sore hari. Memang ada puluhan merek mi instan di Indonesia, tapi hanya Indomie yang jadi panutan. Hingga bapak presiden kita pernah memakai irama jingle iklannya untuk kampanye beliau di pilpres 2009.

Duh jadi pengen makan Indomie dengan telor ceplok dan cabai rawit…

Morose: Ketika Kegembiraan Yang Tak Usai Hanya Mendatangkan Kemarahan

Morose adalah kata sifat yang bermakna marah atau bertemperamen buruk. Salah satu contoh orang yang sepertinya memiliki sifat ini adalah seseorang yang tidak perlu disebutkan namanya di sini.

morose

Kemarahan yang memuncak bisa terjadi karena kita menaruh harapan yang teramat tinggi. Seperti halnya ketika kita gagal menjadi seorang pemenang pemilihan kepala desa ketika orang-orang di sekitar kita terus-menerus membuat kita Ge-Er dengan segala puja-pujinya. Apalagi jika posisi yang diidamkan tersebut sudah kurang sejengkal lagi seperti kasus di negeri kita sekarang.

Ketika kenyataan akan kekalahan tidak mampu kita terima sedangkan ego kita terus disuapi oleh harapan oleh pendukung yang gelap mata, maka kemarahan-lah yang akan mengambil alih. Marah hingga hendak menuntut dan mendesak Tuhan.

Gampangnya bicara, sudah mau menuju kata moroseneng (bahasa Jawa yang berarti menuju bahagia), tapi tidak selesai dan terhenti hingga morose.

Oh ya, saya tidak sedang membicarakan bapak Prabowo Subianto. Lihat saja betapa cerianya beliau saat bercengkrama dengan bapak Surya Dharma Ali di foto bawah ini.

Tawa Lepas Selagi Bebas
Tawa Lepas Selagi Bebas

Kalau malas bicara politik, ada cara lain untuk mengingat kata morose ini. Kita bisa menggali isi KBBI kita sendiri untuk menguasai kata ini.

morose2

Ketika waktu sehari lebih banyak anda habiskan di dalam kamar kecil, dengan perut tak nyaman, badan tidak sehat, wajar jika hari itu rasanya mau marah terus-menerus.

Tarantism: Ideologi Yang Dipeluk Fans T-ARA Saat Melihat Idolanya Menari

Tarantism adalah kecenderungan untuk menari yang tidak terkontrol. Biasanya kita sering menjumpai atau menjadi pelaku fenomena ini saat di dalam ruang karaoke.

BubQN-MIYAAm0BZ

Kata pilihan kita hari ini sendiri bisa juga diartikan kegiatan mengalihkan kesedihan dengan cara menari. Seperti yang dahulu kala diajarkan oleh Jamal Mirdad untuk mengusir kesedihannya tatkala menghadapi malam Minggu yang suram.

sukasuka

Saya bukan penggemar K-Pop tapi saya cukup tahu ada mbak-mbak putih berwajah serupa dengan badan ramping yang mahir menari berkumpul bersama di bawah paguyuban T-Ara. Dengan myuzik mereka yang energik dan penuh semangat, mereka cukup mampu membuat penggemarnya bergoyang dan berdansa-dansi.

t-ara

Akhiran -ism menunjukkan ideologi atau lebih singkatnya sistem berpikir. Communism, liberalism, socialism, dan lain sebagainya. Nah, dalam kasus kata tarantism ini, kita juga bisa memadupadankannya.

Jadi tarantism adalah semacam keyakinan yang bisa menggerakkan para penggemar T-Ara (atau umat manusia pada umumnya) untuk menari tanpa perlu susah payah dan ekstra tenaga untuk perintah dan anjuran.

Oh ya, tadi siang saya sempat googling mengenai pemilu di Korea Utara (credit to pak Prabowo) dan akhirnya malah terdampar di laman-laman yang membahas cewek Korea Utara.

north korea girls

Saya jadi percaya kalau wajah orang Korea Selatan pra-operasi plastik ya kurang lebih seperti wajah saudara mereka di Korea Utara.

Aubade: Musik Yang Kamu Dengarkan Saat Kamu Mau Tidur

Aubade (dibaca uebad) bermakna puisi atau lagu yang sesuai dinikmati untuk suasana dini hari. Karena jarang sekali orang sekarang yang membaca puisi betulan, maka di judul artikel ini saya memfokuskan makna entri ini pada lagu.

aubade

Dini hari adalah saat orang normal beristirahat. Asumsinya, kita mendengarkan lagu aubade ini adalah saat kita mau tidur dengan kondisi lelah sehingga mata malah tidak bisa dipejamkan. Lalu saat lelah melanda, yang biasa kita lakukan adalah memutar lagu yang menenangkan, lagu yang sesuai dengan suasana dini hari, karena kita sangat mau tidur. Kita sangat mAU tidur so BAD(e).

Voila, we got aubade.

Terdengar maksa? Protes?

Hahahaha

Maaf :(

Logorrhea: Bicara Ceria Sampai Akhirnya Jatuh Berdebam

Logorrhea berarti kecenderungan untuk bicara terus-menerus. Penggunaan kata ini adalah untuk keadaan yang lebih parah dari sekadar talkative.

logorrhea

Sebelumnya, saya harus jelaskan bahwa saya adalah pengguna bahasa Jawa. Jadi mohon dimaklumi kalau saya akan sering memakai bahasa Jawa dalam metode plesetan saya.

Logorrhea = Logor + rhea. Logor itu adalah bahasa Jawa yang berarti jatuh. Seiring sejalan dengan adagium mulutmu harimaumu, maka orang yang banyak omong akan memiliki peluang untuk jatuh lebih banyak.

Kecuali Jose Mourinho.