Faedah File Foto Facebook

by ary
Categories: Iseng
Tags: No Tags
Comments: No Comments
Published on: February 13, 2012

Seperti saya ingatkan bertalu-talu sedari dahulu, jangan pernah menggunakan file foto dari Facebook untuk avatar atau gambar latar belakang akun Twitter anda, kecuali anda sudah mengubah nama filenya, atau anda memang ingin distalk.

Nama file itu bisa membawa seseorang ke akun Facebook anda dan mempermudah orang tersebut melakukan riset untuk menggali pengetahuan tentang anda. Walaupun anda sudah melindungi akun Facebook anda dengan mengaturnya agar tidak muncul dalam pencarian, nama file tersebut tetap bisa membuat seseorang menemukan akun Facebook anda.

Caranya seperti ini: anggap saja anda menemukan sebuah file foto Facebook yang bisa anda kenali dari namanya yang unik, misalnya 225286_1017489071185_1043867782_30071874_1338_n.jpg. Saya menggunakan file foto dari akun pribadi sebagai contoh. Deret angka ketiga dari belakang adalah id akun di mana foto tersebut berasal. Jadi, dari file foto 225286_1017489071185_1043867782_30071874_1338_n.jpg, id akun yang saya maksud adalah angka 1043867782.

Masukkan angka 1043867782 tersebut ke dalam url https://www.facebook.com/profile.php?id=[nomor deret ketiga] sehingga anda akan mendapatkan url https://www.facebook.com/profile.php?id=1043867782. Voila, anda menemukan akun Facebook saya.

Have fun.

Tren Gombalan dan Sensitivitas Mahasiswa Tingkat Akhir

by ary
Categories: Iseng
Tags: No Tags
Comments: No Comments
Published on: February 11, 2012

Beberapa waktu terakhir ini, dunia media sosial dan media elektronik Indonesia dibanjiri oleh topik seputar rayu-merayu. Hal yang dulu dianggap norak dan kampungan ini sekarang menjadi barang yang banyak diminati. Tren ini, sepanjang pengamatan saya, dimulai dari mainan gombalan di Twitter pada pertengahan 2010 silam. Beberapa selebritis Twitter tanah air menggunakannya untuk bercanda satu sama lain. Karena followers mereka ribuan, tak butuh waktu selama pernikahan Kim Kardashian untuk membuat gombalan menjadi tren.

Walaupun tak dapat dipungkiri sekarang tingkat kelucuannya semakin menurun karena terus-menerus diulang dengan membabi-buta. Sama seperti kata galau yang dulu sempat lucu dan sekarang menjadi klise, gombalan-gombalan seperti “Ayah kamu [isi satu profesi] ya?” dan “Kamu [isi kata kerja] hati aku” terdengar membosankan.

Nah, saya akan bercerita tentang pengalaman beberapa waktu silam jauh sebelum gombalan menjadi tren dan Kim Kardashian bercerai. Waktu itu saya sedang mengunjungi tetangga saya yang bernama ibu Nana dalam rangka lebaran. Ibu Nana ini mempunyai dua orang anak perempuan yang cantik. Anak sulungnya, sebut saja Ana, adalah seorang mahasiswi Fakultas Ekonomi di suatu perguruan tinggi negeri di Malang. Ana memiliki badan jangkung, berambut panjang, dan berkulit bersih. Tipe mahasiswi ekonomi sekali. Sedangkan anak kedua ibu Nana bernama Ina, siswi salah satu SMA negeri di Malang. Ina ini adalah seorang gadis yang dianugerahi wajah dan tubuh yang tidak jauh berbeda dengan kakaknya. Sama-sama cantik.

Waktu itu, sebagai mahasiswa sastra yang cuma mengerjakan skripsi, saya punya banyak waktu untuk mengamati mereka berdua. Sampai akhirnya tiba pada satu kesimpulan bahwa Ana sudah punya pacar. Berarti tinggal mencari kepastian soal adiknya. Jadilah momentum lebaran itu saya jadikan alasan untuk menelitinya lebih jauh.

Setelah bercakap-cakap beberapa lama, akhirnya ibu Nana bercerita juga tentang anak-anaknya. Oh ya, saya bukan penduduk asli daerah tersebut, jadi saya tidak mengenal akrab dua bidadari itu. “Ana itu mas, mulai SMA sudah banyak yang nanyain, saya sih nggak perduli, saya kasih kebebasan kepada anak saya untuk memilih pacar,” ucap ibu Nana bersemangat. Semangat saya sedikit membumbung.

“Saya juga tidak perduli dengan kekayaan si cowok, asalkan anak saya bahagia.” Saya yang jauh dari kata rupawan ini semakin bergembira.

“Beberapa waktu lalu Ana memutuskan pacarnya yang kerja di perusahaan perminyakan, saya sempat bertanya-tanya kenapa dia memutuskan pacarnya yang sudah mapan itu, tapi nggak apa-apa, asalkan anak saya bahagia.” Harapan semakin tinggi untuk mendekati bidadari yunior.

“Pacar Ana yang sekarang masih kuliah dan dia nggak nggantheng mas, jauh kalau dibandingkan pacarnya yang dulu.” Saya menarik hp saya dari saku dan siap menghubungi ibu saya dan mengabarkan kalau anak bungsunya akan segera punya pacar.

“Mungkin karena pacar barunya anak sastra ya mas, pinter nggombal, pinter ngerayu, padahal mau jadi apa sih mahasiswa sastra itu, nggak jelas masa depannya.” Langit gelap.

Handphone saya masukkan lagi ke kantong, teh manis suguhan yang tiba-tiba terasa pahit di meja langsung saya tenggak, dan saya segera angkat kaki. Tak lupa pot bunga di halaman rumah mungil itu saya tendang satu. Jangan pernah main-main dengan mahasiswa sastra yang sedang mengerjakan skripsi. Jomblo pula.

Tentang Sebuah Novel Stensilan

by ary
Categories: Entri Sastrawi
Tags: No Tags
Comments: 4 Comments
Published on: November 19, 2011

Bagi kita yang memasuki masa akil balig pada tahun 90an, novel stensilan karya Freddy S., Abdullah Harahap, dan Enny Arrow tentu turut mewarnai periode tersensitif dalam perkembangan kedewasaan manusia tersebut. Tidak seperti anak masa kini yang dimanjakan oleh Internet dengan segala kelebihan audio visualnya, anak 90an dulu masih berkutat pada teknologi cetak untuk mendapatkan sepenggal imajinasi tentang nafsu terliar umat manusia. Ditambah dengan masih sangat tabunya hal-hal yang berkaitan dengan seks pada masa keemasan orde baru itu, remaja generasi 90an mau tidak mau harus berusaha sedikit lebih keras daripada sekadar mengetik beberapa kata pada kolom pencarian search engine di Internet.

Membaca memancing imajinasi jauh lebih dahsyat daripada sekadar menyaksikan. Begitu juga saat membaca novel stensilan. Hal ini terbukti pada sensitifnya generasi berusia 20 tahun ke atas pada beberapa kata yang didengungkan bertalu-talu oleh para penulis sastra aliran syahwati tersebut, misalnya menggelinjang, mendaki kenikmatan, semak belukar, dan desahan.

Bukan novel stensilan, tapi pada masa 90an, buku seperti ini beneran ada. Good old days :') (gambar diambil dari akun facebook @la_frengerita)

Nah, sekarang saya mau bercerita tentang seorang teman. Sebut saja inisialnya DBR (bukan inisial sebenarnya). Pada masa mudanya, dia adalah seorang pecandu novel stensilan. Dia mendapatkan novel tersebut dengan berbagai cara. Bisa dengan membeli atau dengan meminjam. Kegemarannya pada buku dengan kualitas cetakan apa adanya itu semakin menggila hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk berhenti menikmati buku-buku seperti itu.

Ketahuan orang tua? Tidak. Kena razia guru BP/BK? Sepertinya bukan. Dia orang yang selalu waspada. Diingatkan ustadz? Bukan juga. Jadi apakah sebabnya? Baiklah, saya akan bercerita sedikit pengalaman teman saya yang berbadan gempal tersebut.

Pada suatu hari yang cerah di dasawarsa 90an, ia mendapatkan sebuah pinjaman novel stensilan dari temannya. Dengan hati riang, ia membawa buku itu pulang dan menempatkannya di posisi yang aman agar novel itu senantiasa aman dan bisa dibaca dengan nyaman ketika keadaan memungkinkan. Setelah keadaan aman, ia mulai membuka lembar pertama dengan jantung berdebar. Sampul dengan lukisan sepasang anak manusia sedang memadu kasih nampaknya cukup mampu menggoda nafsu DBR kecil yang masih lugu. Ceritanya standar. Tentang sepasang kekasih yang dibedakan oleh status sosial. Anggap saja nama pelaku utama adalah Rudi dan ia memiliki seorang kekasih berbadan montok bernama Maya. Sebagai anak orang berada, Rudi memiliki cukup modal untuk mendapatkan wanita. Hingga muncullah Mella, teman sekampus Rudi yang selain molek juga sangat ranum dan seksi. Singkat kata, Rudi berselingkuh dengan Mella. Adegan perselingkuhan ini digambarkan dengan sebuah hubungan intim yang menggelora setelah mereka menghabiskan malam di sebuah diskotik.

Perselingkuhan ini tidak berumur panjang. Maya yang sangat mencintai Rudi menemukan bahwa sang kekasih telah berpaling ke tubuh lain. Setelah beberapa halaman penuh percekcokan, mereka akhirnya berbaikan. Rudi yang memiliki kharisma seorang pujangga mampu menaklukkan hati sang dara dengan penuh gelora. Mella? Ah, perannya sudah tidak penting lagi. Sang penulis tidak lagi berminat untuk membahas gadis malang ini.

Rujuknya sepasang remaja ini digambarkan dengan sebuah adegan mesra di rumah Rudi. Saya akan mencoba menggambarkannya berdasarkan kesaksian DBR. Semoga dari rekonstruksi karangan saya ini, anda bisa menyimpulkan bagaimana DBR menemukan pertobatannya.

“Aku mencintaimu dengan segenap jiwa ragaku, Maya,” bisik Rudi sambil menghembuskan nafas hangat ke telinga Maya. Maya memejamkan matanya dan memeluk tubuh kekar Rudi sambil menikmati romansa cinta mereka berdua. “Aku juga mencintaimu sayang, aku milikmu sepenuhnya, hati ini, tubuh ini, bibir ini, semua milikmu. Nikmatilah semuanya sayang,” desah Maya sambil merapatkan pelukannya. Bagai kerbau dicocok hidungnya, Rudi pun segera membuka pelan bajunya dan pakaian kekasihnya itu hingga kedua anak Adam itu polos tanpa selembar benangpun. Rudi memagut bibir Maya dengan lembut. Maya membalas ciuman itu dengan memainkan lidahnya bak seekor ular Cobra yang menari-nari. Jemari Rudi turun pelan dan ia menemukan semak belukar dengan gundukan kecil. “Malam ini kita akan bersatu dalam deru nafas yang memburu untuk menikmati cinta kita, gadisku,” bisik Rudi pelan sambil meremas bongkahan daging yang membusung di dada Maya. “Nikmatilah tubuhku sayang, jamahlah aku,” Maya menggelinjang pelan. Tak sabar, Rudi segera membimbing meriamnya dan hingga kedua badan itu berpadu. Rudi mulai mendayung pelan dan Maya mengimbanginya dengan meliukkan badannya. Semakin lama gerakan dua insan dimabuk cinta ini kian kencang seiring gairah yang semakin memuncak. “Ooooh Rudiku sayang, ohhh.” desah Maya memanggil nama kekasihnya. Rudi semakin giat memperkeras gerakannya hingga akhirnya Bambang menggelinjang dan hanyut dalam kenikmatan.

Segera setelah DBR sampai pada bagian ini, ia langsung membuang buku itu dan memutuskan untuk berhenti membaca novel stensilan. “Daripada fantasi saya dirusak Bambang, mending saya berhenti baca sekalian,” tegasnya sambil beringsut pergi. Sepertinya kenangan buruk akan sebuah nama yang saya duga disebabkan oleh kelalaian sang editor itu telah menyakiti hatinya dengan sangat mendalam.

Permainan Kartu Yang Sebaiknya Jadi Bagian Pelatihan Agen BIN dan CIA

by ary
Categories: Iseng
Comments: 2 Comments
Published on: August 4, 2011

Suka main kartu tapi bosan dengan poker, remi, dan sejenisnya? Atau mungkin anda mulai eneg juga dengan permainan cangkulan, permainan yang menurut temen saya yang berasal Sampang Madura bernama nom-enom, itu?

Saya tawarkan permainan baru yang saya jamin bisa membuat anda dan teman-teman anda tertawa-tawa sampai kaku. Saya diperkenalkan kali pertama dengan permainan ini oleh teman saya yang jagoan rubik. Terakhir saya tahu, dia masih pemegang rekor kecepatan menyelesaikan kubik di Malang, paling tidak di lingkungan kampus UB.

Nama permainan ini aslinya adalah Goroh-gorohan, diambil dari kata dalam bahasa Jawa, goroh, yang berarti bohong. Jadi, kalau mau menerjemahkan langsung, permainan ini bisa diartikan menjadi Bohong-bohongan. Pernah terpikir untuk mencari nama yang lebih keren, tetapi sampai sekarang belum juga muncul nama lain.

Ada tahapan yang perlu dilaksanakan untuk memulai permainan yang seharusnya jadi permainan standar perekrutan agen BIN ini.

1. Cari musuh

Saya bukan provokator kok. Seperti kata pepatah barat kuno, “It needs two to tango.” Jadi seperti halnya pernikahan, anda tidak akan bisa memainkan permainan ini sendirian. Paling tidak, permainan ini bisa dimainkan oleh dua orang. Makin banyak makin seru.

2. Cari kartu

Sepanjang pengalaman saya, satu pak kartu (52 lembar) bisa dimainkan dengan nyaman oleh dua sampai lima orang. Jika anda ingin bermain dengan lebih banyak orang, gunakan dua pak. Ingat, gunakan cara-cara yang halal untuk mendapatkan kartu untuk permainan ini. Ingat, dalam permainan ini anda akan banyak berbohong, jangan menambah dosa dengan menganiaya pihak lain hanya demi satu pak kartu.

Selanjutnya, saya akan menjelaskan cara bermainnya. Pertama-tama, kartu dibagi rata kepada semua pemain. Tak lupa saya sarankan untuk menyisakan 4 atau 5 lembar kartu supaya para pemain sedikit  kesulitan menebak kartu lawan.

Setelah kartu selesai dibagikan, sang pengocok atau pemain pertama menurunkan serangkaian kartu dalam keadaan tertutup. Boleh selembar boleh lebih. Contohnya, sang pemain pertama menurunkan dua lembar kartu. Kemudian, dia mengklaim bahwa sepasang kartu yang ia turunkan adalah sepasang kartu queen. Tugas pemain selanjutnyalah yang menentukan, apakah ia percaya kartu itu benar-benar sepasang queen atau si bandar berbohong. Jika pemain kedua meragukan kejujuran sang bandar, dia harus membuka kartu yang tertutup di meja. Jika benar kartu itu adalah sepasang queen, pemain kedua harus mengambil kartu tersebut dan giliran permainan kembali ke sang bandar.

Jika saja pemain kedua mempercayai pemain pertama yang memang terkenal akan kejujurannya, dia harus menambahkan kartu sejenis, dalam contoh ini queen juga. Bisa satu, boleh dua, atau tiga, dan bahkan empat. Mengenai kebenaran kartu yang diturunkan pemain kedua, pemain ketigalah yang punya wewenang untuk membuktikannya.

Sekali pemain kedua percaya pada pemain pertama, rangkaian kartu tersebut, walaupun kebohongannya sebesar bukit Uhud, akan dianggap benar. Pembuktian kebenaran dalam permainan ini tidak berlaku surut.

Jadi, misalnya pemain pertama menurunkan sepasang kartu yang diklaim sebagai duo queen, kemudian pemain kedua menurunkan dua kartu lagi yang ia akui sebagai pasangan queen juga. Kemudian pemain ketiga tidak percaya. Ia hanya perlu membuka dua kartu dari pemain kedua. Jika dua kartu dari pemain kedua tersebut benar-benar queen, maka pemain ketiga harus mengambil keempat kartu yang ada di meja. Kemudian pemain kedua mendapat hak untuk memulai putaran selanjutnya. Pihak yang menang adalah pihak yang kartunya habis paling awal.

Jika salah satu pemain ragu akan kebenaran klaim pemain sebelumnya, dia boleh pas, dengan konsekuensi dia kehilangan hak bermain dalam satu putaran tersebut.

Dalam permainan ini, anda harus siap menghadapi kemungkinan jumlah kartu yang melebihi kebiasaan. Misalnya, kartu as yang jumlah normalnya ada empat, karena beberapa pemain yang berbohong dan tidak ketahuan, bisa saja jumlah kartu yang diklaim sebagai as di meja ada 10, atau bahkan 14. Jika jumlahnya sudah semakin tidak masuk akal dan para pemain tidak ada yang punya cukup nyali untuk membukanya alias pas, putaran tersebut bisa dihentikan. Pemain yang terakhir menurunkan kartu berhak untuk memulai putaran baru.

Permainan ini mengenal sistem warisan, jadi jika dalam satu putaran ada pemain yang habis kartunya, dan secara kebetulan tidak ada pemain lain yang berani membuka kartu pemain tersebut, pemain giliran selanjutnyalah yang memulai putaran baru.

Berdasarkan pengalaman saya, jika anda mengenali teman anda dengan baik, anda biasanya tahu kapan mereka berbohong atau tidak. Sebaliknya, teman-teman anda pun cenderung mengenali kapan anda berdusta. Jadi, permainan ini akan melatih kita semua untuk mengenali teman-teman kita dengan mendalam.

Akhir kata, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya; seperti halnya dalam permainan poker di mana lain kosan lain peraturan. Jika anda merasa penjelasan saya di atas susah dipahami, silakan anda buat peraturan yang anda dan teman-teman anda sepakati sendiri. Semoga suatu hari nanti saya bisa bermain melawan anda. *tatapan Deddy Corbuzier*

Barong Kemiren Saga; When My Eyes Tricked Me

by ary
Categories: Traveling
Comments: 2 Comments
Published on: August 4, 2011

The night was so clear when I and my friends rode an old pick-up through the rough road of Kemiren. We got a starry sky upon that remote village located in the heart of Banyuwangi, East Java. A native Banyuwangese, Andi Supandi, invited us to see a Barong Kemiren show in his neighborhood. The pick-up we rode was not his pick-up. We just waited any cars passing in front of his house and we did hitchhiking.

Soccer Socks

After some minutes of journey, we arrived at the spot. It was a wedding which held a Barong Kemiren show. The place was full of people. Just like us, most of them came here to see the Barong Kemiren show. We awkwardly walked as everyone saw us. No one recognized us but they all knew Andi Supandi. Avoiding more attention, we directly moved to the empty chairs. Luckily, we found chairs in the front row. It seemed that the chairs here were provided for the important persons.

Some snacks were served on the table in front of us. Some of them are rarely found in Malang nowadays. They were jenang, fried bananas, cucur, bikang, putu ayu, etc. Of course they did not forget to serve the legendary Djarum 76. I learn later that this brand is the most famous cigarette brand in Banyuwangi. Almost all people, old and young, we saw at that place enjoyed this vintage cigarette. The drinks were melon syrup. Served in some small glasses, they were not sweet enough.

The Willy Old Classic Snacks and The Legendary Djarum 76

 

At 9 PM, the show began. Andi Supandi told us that the show would be divided into four jejer or stages. The first jejer was entitled Ja’ripah. It was a story about Ja’ripah, a lady who lost her Barong. Sinar Udara, the name of the Barong in that story, was her pet. Ja’ripah dressed in the costume of Gandrung dance, the most famous dance of Banyuwangi.

Dancing With Barong

After some minutes of opening, then came in three comedians. They were Tambur, Layar, and Kemudi. As part of common people’s culture, their jokes tended to be slapstick, harsh and dirty. Although we did not understand even a word of Using, the mother tongue language spoken by the native of Banyuwangese, we still could laugh hard at those three jokers. Yes, slapstick and dirty jokes never fail.

Slapticks Rule!

Having a laugh for an hour, the story continued to the Ja’ripah’s search of her Sinar Udara. She was helped by Paman Iris. The cast of Paman Iris actually was the same person who played Tambur. I hoped it was just for the sake of the efficiency, not because this tradition was no longer attracting to the youngsters to take part in.

That was Paman Iris who found Sinar Udara. He brought the Barong home, but Sinar Udara did not recognize Ja’ripah any longer. To bring Sinar Udara’s memory back, Ja’ripah sang a beautiful tembang. After listening to the tembang, Sinar Udara’s memory came back and he could recognize Ja’ripah again.

The Hidden Smile

As the prize for bringing Sinar Udara home, Paman Iris wanted to marry Ja’ripah. This request was granted by Ja’ripah only if Paman Iris could kill Sinar Udara. Paman Iris accepted this challenge. He had a fight with Sinar Udara and he could kill the Barong. Seeing her pet dead, Ja’ripah was sad. She asked to Paman Iris to resurrect Sinar Udara from death. This request was also fulfilled by Paman Iris. He then asked about his request to marry Ja’ripah, but she still rejected him. Paman Iris was angry and the clash between him and Sinar Udara happened again. In the second fight, Paman Iris was lost. He was killed by Sinar Udara and the first jejer ended.

Night got older when the second jejer started. The title was Panji Sumirah. It was a story about Panji Sumirah, a knight who wanted to open Triboyo forest for a village. In Using and also in Javanese, Triboyo means three dangers. In his effort to open the forest, Panji Sumirah actually faced three dangers. The first and the second dangers were the attack of the king of the troll forest and his servant.

I believed it was the most attractive part of the show. Armed by iron swords, Panji Sumirah and those two trolls had a fight. That was thrilling one. The actors snatched the sword very fast. The sparks flipped out to the air as the swords collided. If they were not well-trained, someone must be hurt in that dangerous fighting scene. After an hour of battle and the players looked really exhausted, Panji Sumirah won. But soon the third danger came in. It was a group of 44 evil spirits. All of them were beaten. Panji Sumirah ordered one of the defeated evil spirits to marry one of his servant. In the future, their descent would live in that village. That was the end of the second jejer.

Panji Sumirah vs A Troll (Forgive My Poor Camera)

It was almost in the middle of the night when the third jejer played. Entitled Suwarti, the third jejer told us about the story of Suwarti from the day she was born until she got married. For me, that jejer was the most boring one. As my glass of the-not-sweet melon syrup was empty, I could not stand to not fall asleep during Suwarti.

After some minutes of sleeping, when I opened my eyes, some casts appeared wearing the Dutch clothes. But that was not the most attracting one for me at that time. The most important thing was a glass of hot black coffee served in front of me. A sip of that bitter strong coffee could strike a thunder in my head. Fully awake, I thought it was just me who slept in this jejer, but later on I learned that almost all of my friends also fell asleep in this stage. Perhaps that was the reason why the owner of the house served us coffee. Actually, during this scene, some of the native attendants were also disappeared. Perhaps they went out for a coffee or cigarette.

It was dawn when the last scene, Mantri Rundoyo, which was believed as the climax of the show, began. I did not remember the exact but after the slack Suwarti, suddenly the place was crowded again. Andi Supandi told us that people waited for this since for them this was the most attracting jejer.

Mantri Rundoyo was the story about a hermit living in Alas Purwo with his two tigers. He cast a spell upon one of the tiger and he transfigured it into a man. The transfigured tiger was ordered to go to nearby village to look for a woman to whom the hermit would get married with. In the village, the tiger found the beautiful wife of Mantri Rundoyo. You might not believe me but trust me that Mantri Rundoyo’s wife for a second or two was looked like the gorgeous Manohara Odelia Pinot. Like Ja’ripah, the cast of Mantri Rundoyo’s wife also wore Gandrung dance costume.

Old Christopher Robin with his adult Tiggers. Where are you, aged Pooh?

The transfigured tiger kidnapped the wife of Mantri Rudoyo, but he did not bring her to the hermit as he was ordered. He was also attracted by the beauty of her. In her exile, a stranger came and told the wife of Mantri Rundoyo that the man actually was a tiger, not a real man. She did not believe to the stranger as she also fell in love with the tigerman. Suddenly, the spell was expired and the man was transfigured back into a tiger.

At that time, I finally knew why people waited for this jejer. The person who played the tiger was possessed. The situation became little bit chaotic. Some people whistled loudly in order to make the possessed tiger chase them. And it happened. The tiger chased those who whistled the loudest. The people ran away and the tiger still pursued them. It seemed people really enjoyed the adrenaline of being chased by the dangerous possessed person. I could not imagine what would happen if he could catch one of the spectators. In that morning, I was really thankful that I could not whistle loudly.

Mano KW9

We walked home together with the other spectators. In that morning, we agreed to go back on foot. En route to home, we walked on the dike between the rice fields. It was about 6 AM and we saw lot of people worked in the fields. That was very beautiful scenery we portrayed in our mind. While crossing a small shallow river, feeling the cold of the water, suddenly Andi Supandi said, “Barong Kemiren casts were all males. No females involved in the show.” A loud splash heard then. It was me. I fell to the water. I was too shocked. I still could not believe that the beautiful wife of Mantri Rundoyo was actually male. Oh my..

“Bahasa Wlingi” yang Nyaris Punah

by ary
Categories: Bahasa
Tags: , ,
Comments: No Comments
Published on: July 28, 2011

Saya yakin banyak di antara anggota majelis pembaca yang belum pernah tahu kota Wlingi. Kota asal saya yang terletak di Kabupaten Blitar bahkan nyaris tidak pernah muncul di media massa. Selain merupakan daerah yang aman, Wlingi nyaris tidak memiliki sesuatu yang menonjol.

Stasiun Wlingi (blog.adeputra.com)

Lahir dan dibesarkan di kota ini, saya ingat sekali bahwa saat saya SD sampai SMP dulu para kawula Wlingi memiliki bahasa pergaulan mereka sendiri. Tidak kalah dengan bahasa walikan khas Malang yang menurut seorang teman mirip dengan bahasa gaul pemuda Paris, kami remaja Wlingi punya bahasa kami sendiri yang saya jamin tidak ada padanannya di manapun.

Saya berikan contoh percakapan dalam “bahasa Wlingi.”

A: “Ukak anung ulak njanung okak ronong e.”

B: “Ukak anung urak onang ukak ronongan ukas saining.”

A: “Wah, ubat henang unan tenang usak inong undak maneng.”

B: “Usak oning ugan mernong ucar panang ku. Eh, Ucah bonang udak wenong uwak kaneng kok uyak anung ungat baneng yo.”

Semua kalimat di atas adalah kalimat dalam bahasa Jawa ngoko (kasar) yang diubah menjadi “Bahasa Wlingi.” Dalam bahasa Jawa normal, percakapan di atas akan menjadi seperti di bawah.

A: “Aku njaluk rokok e.” (Saya minta rokoknya)

B: “Aku ora rokokan saiki.” (Saya merokok lagi sekarang)

A: “Wah hebat tenan iso mandek.” (Wah hebat sekali bisa berhenti)

B: “Iso mergo pacarku. Eh bocah wedok kae kok ayu banget yo.” (Bisa karena pacar saya. Eh cewek itu kok cantik sekali ya.)

Ya, saya kira anda sudah bisa menebak rumusnya seperti apa. Rumusnya sederhana sekali. Satu kata dalam bahasa sumber menjadi dua kata dalam bahasa Wlingi. Kata pertama dalam bahasa Wlingi selalu berawalan U. Kemudian, tempatkan huruf konsonan di tengah kata bahasa sumber di belakang huruf U tadi. Lalu tambahkan huruf A. Terakhir, gunakan huruf konsonan terakhir pada kata dalam bahasa sumber sebagai huruf terakhir di kata pertama. Sedangkan kata kedua diawali dengan suku kata yang sama dengan suku kata pertama dalam bahasa sumber. Lantas tambahkan huruf N di belakang suku kata pertama. Di belakangnya, berikan huruf vokal yang sama dengan huruf vokal yang muncul pada suku kata selanjutnya. Sebagai akhiran, selalu digunakan -ng.

Contoh:

HEBAT menjadi uBaT HEnAng.

MALING menjadi uLaNG MAnIng.

(Huruf kapital menunjukkan huruf yang membentuk kata asli dalam bahasa sumber)

Sebagaimana bahasa-bahasa lainnya, selalu ada perkecualian. Misalnya pada kata “aku.” Kata aku menjadi ukak anung. Seolah-olah “aku” menjadi “akuk.” Contoh lain adalah duit. Kata tanpa huruf konsonan di tengah ini disesuaikan dengan cara bacanya, yaitu duwit. Jadi kita sekarang mendapatkan huruf W. Voila, terbitlah kata uWaT DUnIng.

Untuk kata dengan huruf konsonan ganda di tengah, seperti goblok, ambil dua huruf konsonan tersebut sebagai bagian pembentuk kata pertama dalam bahasa Wlingi.

Contoh:

GOBLOK menjadi UBLaK GOnOng.

Masalah muncul ketika dihadapkan pada kata yang terdiri lebih dari 3 suku kata. Saya ambil contoh justifikasi yang berubah menjadi uTak JUSniFIKASning. Kemudian globalisasi yang menjadi uBang GlonALISASning.

Sayangnya, sampai sekarang, saya belum berhasil membuat padanan bahasa Wlingi untuk kata bersuku kata tunggal. Misalnya big, hi, dan sebagainya. Yah, saya pikir inilah salah satu kelemahan bahasa ini.

Dewasa ini, bahasa ini jarang dipakai. Selain ribet dan tidak praktis, sempat muncul anggapan bahwa petuturnya ndeso. Saya ingat ada beberapa kalangan yang menyebutnya bahasa Kletek, nama sebuah area terpencil di kecamatan Wlingi, untuk menunjukkan bahwa bahasa ini hanya digunakan oleh orang-orang tidak berpendidikan. Bisa jadi asumsi ini turut berandil menurunkan pamor bahasa yang sempat berjaya pada pertengahan 1990-an.

Saya ingat sekali dulu saya dan teman-teman SMA sering memakainya untuk menyamarkan sesuatu yang riskan disebutkan di lingkungan sekolah; misalnya rokok. Diskusi untuk mencari tempat yang aman untuk merokok, apakah di kantin timur atau di kamar mandi cowok di bawah pohon kelapa, sering kami lakukan dengan bahasa ini. Sampai pada akhirnya kami tahu bahwa ada guru bahasa Indonesia kami yang paham bahasa ini. Namanya juga guru bahasa, walaupun dia bukan orang Wlingi, tapi kepeduliannya pada bahasa membuat dia memahami bahasa ini dengan jelas. Tidak seperti guru-guru yang lain yang dapat dengan mudah kami pergunjingkan di depannya tanpa harus menghadap guru BP/BK.

Konsistensi Tetralogi Laskar Pelangi

by ary
Categories: Entri Sastrawi
Comments: No Comments
Published on: July 9, 2011

Laskar Pelangi boleh jadi adalah tetralogi terlaris sepanjang sejarah kesusastraan Indonesia hingga detik ini. Tetralogi karangan Andrea Hirata ini telah dicetak ulang berkali-kali dan mendapat banyak penghargaan dan pujian. Tak hanya novelnya, apa saja yang berhubungan dengannya ikut menangguk keuntungan yang luar biasa. Film Laskar Pelangi yang disutradarai Riri Riza boleh jadi adalah film yang paling banyak ditonton penduduk Indonesia (setelah film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI, tentu saja). Lagu-lagu pendukung film tersebut juga mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.

(more…)

page 1 of 1
Twitter

Welcome , today is Monday, May 21, 2012