Membuktikan Pepatah Gajah Di Pelupuk Mata Tak Tampak (Cerita Tentang Skripsi: Bagian Pertama)

by ary
Categories: Iseng
Tags: No Tags
Comments: No Comments
Published on: February 4, 2014

Skripsi adalah musuh utama mahasiswa, terutama yang malas seperti saya. Tapi skripsi bukan tugas kuliah biasa. Jadi saya selalu berpikir bahwa skripsi harus menjadi karya monumental dalam hidup. Apalagi tidak ada kepastian saya bisa menikmati pendidikan lanjut setelah S1 ini.

Saya menjalani kuliah dengan apa adanya. IPK-pun pas-pasan sedikit di atas 3. Lebih banyak waktu kuliah saya habiskan dengan nongkrong, kerja serabutan, atau sekadar membantu meramaikan acara-acara di kampus. Setelah semua kuliah habis di awal 2007 dan saya hanya perlu mengerjakan momok manusia modern bernama skripsi, kegiatan bergembira-ria semakin sering saya lakukan. Setiap hari saya hanya berkutat dengan kopi, becandaan, bermain game Pokemon atau Football Manager 2005, kopi lagi, sampai pagi.

Selama masa kegelapan ini, di antara jeda mengejar Pokemon atau libur musim panas di game Football Manager, saya sebenarnya masih kepikiran untuk mencari judul-judul skripsi yang sekiranya keren dan bisa dibanggakan. Bongkar-bongkar tugas kuliah, tumpukan novel fotokopian, dan bergiga film, saya mendapatkan 4 judul skripsi dengan pendekatan Marxisme supaya keren, psikoanalisis agar nampak rajin baca, dan dekonstruksi biar kelihatan kritis. Hanya butuh 1 x 24 jam bagi dosen pembimbing dua untuk menolak itu semua.

Dalam kondisi putus asa dan setengah meminta iba, saya bertanya apakah ibu pembimbing saya yang cantik itu memiliki ide judul skripsi yang bisa dihibahkan ke mahasiswanya yang pas-pasan ini. Beliau sungguh baik hati. Dengan sabar, ibu dosen muda yang lulusan kampus Jogjakarta ini bercerita tentang tugas kuliah S2-nya tentang analisis autobiografi Malcolm X. Tak lupa beliau membesarkan hati saya bahwa saya mampu untuk mengerjakan tugasnya dulu yang belum tuntas. Masalahnya sekarang, saya harus mencari buku autobiografi sang tokoh perjuangan hak-hak kaum kulit hitam di Amerika tersebut. Buku punya sang ibu ketinggalan di Jogjakarta dan perpustakaan fakultas tidak menyediakan buku tersebut. Dan saya punya satu alasan lagi untuk bermalas-malasan.

Sekarang saya punya kesibukan lain selain browsing para wonderkid atau mencari walkthrough Pokemon: mencari ebook The Autobiography of Malcolm X. Entah berapa jam paketan internet di warnet dekat rumah saya habiskan demi buku ini. Nihil. Nol besar. Tapi masih ada harapan tersisa. Pada pertengahan 2007, saya punya acara pergi ke Malaysia selama satu bulan untuk program kunjungan ke kampus Universitas Malaya program dari DIKTI. Nah, selain misi kenegaraan tersebut, saya punya misi lain untuk mencari buku autobiografi Malcolm X demi si skripsi.

Tidak perlu waktu sampai seminggu sampai akhirnya saya menemukan buku tersebut di perpustakaan Universitas Malaya yang punya koleksi buku sastra lengkap. Dengan mata berbinar-binar, saya bawa buku tebal tersebut ke tukang fotokopi yang berada dalam gedung perpustakaan tersebut. Kebiasaan asal fotokopi ini sudah melekat erat di kerangka berpikir pelajar Indonesia seperti saya. Namun apa daya, petugas fotokopi keturunan India di perpustakaan tersebut hanya menggelengkan kepala dengan senyum lembut menolak permintaan saya. Hanya 20 halaman saja yang boleh ia fotokopi demi menghormati hak-cipta penulisnya. Suram.

Untuk membunuh kekecewaan, hari-hari di negeri jiran itu akhirnya saya habiskan dengan jalan-jalan, ikut kelas, nongkrong di KFC sampai dini hari, tidur, dan hal-hal santai lainnya. Sungguh malu rasanya jika turut mengkritik studi banding para wakil rakyat jika ingat apa yang dulu saya lakukan. Akhirnya di hari minus satu hari sebelum kepulangan, saya mendapat informasi bahwa ada petugas fotokopi perpustakaan di lantai tiga melayani fotokopi satu buku penuh. Dengan berlari penuh semangat, saya balik ke perpustakaan, mencari buku tersebut, dan segera menemui petugas fotokopi yang baik hati tersebut. Saat berhasil menemuinya, dengan sedikit masygul karena tahu bahwa dia orang Indonesia, saya meminta dia memfotokopi buku tersebut. Dia mengangguk dan mempersilakan saya mengambil hasilnya dua hari ke depan karena ada banyak buku yang sedang dalam antrian untuk difotokopi. Suram. Bahkan persamaan tanah air tak bisa membujuknya mendahulukan buku yang saya minta.

Sambil duduk lemas di bandara menuju penerbangan ke Bangkok, saya tak henti mengutuki diri karena gagal mendapatkan buku autobiografi tokoh keren tersebut. Oh ya, saat teman-teman balik ke Indonesia, saya melanjutkan perjalanan ke Bangkok untuk mengunjungi kakak yang sedang kuliah di sana. Jadi saya benar-benar sendirian di bandara sambil merenungi misi yang gagal.

Saat di ruang tunggu, deretan sebelah saya adalah ruang tunggu penerbangan Kuala Lumpur – Jakarta. Terdengar suara merdu seorang perempuan mengumumkan bahwa pesawat saya mengalami keterlambatan selama sekitar 30 menit. Sambi mengumpat pelan, saya perhatikan bahwa orang-orang di deretan saya nampak biasa-biasa saja. Paling hanya sekadar mendengus lalu meneruskan membaca koran atau segera menelepon sanak saudara atau kekasihnya untuk mengabarkan keterlambatannya. Segera setelah itu, pengumuman berlanjut dengan kabar bahwa pesawat tujuan Jakarta juga akan terlambat. Belum juga perempuan bersuara empuk itu menyelesaikan pengumumannya, suaranya sudah tertelan oleh teriakan protes dan makian riuh para penumpang tujuan Indonesia yang mayoritas saudara sebangsa dan setanah-air saya.

Bangkok dengan penunjuk-penunjuk jalan berbahasa dan beraksara Thai bukanlah kota yang menyenangkan bagi orang yang cuma mampu berbicara bahasa Inggris. Apalagi jika ia malu bertanya. Selama 10 hari di sana, hanya sekali saya pergi sendiri dan itupun pulangnya tersesat lebih dari 5 kilometer karena salah menyebutkan nama daerah apartemen kakak. Kasihan melihat saya cuma di apartemen saja, kakak mengajak saya ke salah satu mall besar di tengah kota untuk mengikuti lomba 17-an. Kebetulan waktu itu pertengahan bulan Agustus dan pihak kedutaan besar Indonesia mengadakan lomba-lomba tujuhbelasan. Salah satunya ya lomba olahraga gelinding bola tersebut. Masak ekspatriat main lomba makan kerupuk atau balap karung? Kita kan sedang menjadi ekspatriat, bukan TKI atau TKW.

Saya yang sampai sekarang tidak berhasil menemukan serunya olahraga itu, tidak cukup sabar untuk terus berada di lokasi permainan dan memutuskan untuk jalan-jalan sendirian. Sambil makan donat, saya muter-muter mall tersebut hingga akhirnya menemukan toko buku Kinokuniya. Okelah, baca-baca buku mungkin bisa membantu menghabiskan waktu, pikir saya waktu itu.

Saking ndesonya, saya senang sekali masuk ke toko buku sebesar Kinokuniya yang jelas jauh lebih besar dari Gramedia atau toko buku Toga Mas di Malang. Tapi apa mau dikata, baru baca dua tiga eksemplar FHM, Playboy, dan majalah-majalah dewasa edisi Thailand di rak majalah, para penjaga toko mulai menurunkan rolling door dan mulai mematikan beberapa lampu. Sambil mendengus kesal, saya beringsut menuju pintu keluar. Saat itu, saya melihat ada buku My Life, buku autobiografi Bill Clinton yang sempat jadi kontroversi pada tahun itu. Sambil berdecak kagum karena bisa menimang buku yang ramai jadi perbincangan, saya menemukan buku Autobiography of Malcolm X satu tingkat di bawahnya. Terkesiap selama beberapa detik. Senang sekali rasanya. Harganya hanya 379 baht atau sekitar 140 ribu rupiah. Hanya tinggal satu kopi pula. Dengan sampul agak berdebu. Misi selesai. Skripsi akan segera selesai.

Sore di tahun 2009. Sore yang teduh seperti sore biasanya. Saya sedang mengunjungi rumah kos teman di mana saya sering menghabiskan waktu atau menumpang istirahat seusai mengajar di satu kampus swasta di Malang. Dengan senyum lebar, teman saya si kutubuku berambut kribo ini memamerkan buku yang baru ia dapatkan di pasar buku loak jalan Majapahit depan stasiun kereta api Malang Kota. Buku tersebut adalah buku yang membuat saya berlari-lari kencang di Malaysia, buku yang saya temukan tidak sengaja di saat membunuh kebosanan di Bangkok, buku yang turut mengubah hidup saya: The Autobiography of Malcolm X. Harganya hanya Rp17.000,00 pula. Bangsat.

Mengungkap Makna Di Balik Suit Gunting Batu Kertas

by ary
Categories: Iseng
Comments: No Comments
Published on: August 10, 2013

Sesaat sebelum permainan petak umpet dimulai, kita harus menentukan siapa yang jaga. Cara paling sederhana adalah dengan menggunakan suit. Setelah suit standar gajah manusia semut terasa ketinggalan zaman, orang Indonesia lebih sering memakai suit gunting batu kertas.

Makna standar


Masalahnya, selama ini kita selalu dicekoki paham yang menyatakan bahwa isyarat jari itu simbol adalah gunting batu kertas. Nah, bagaikan agan-agan Kaskus yang selalu menemukan kebenaran, saya mencetuskan bahwa suit gunting batu kertas itu sebenarnya suit yang mewakili pertempuran ideologi.

Liberalisme
Dalam suit standar sama dengan penggambaran gunting. Seperti bentuknya yang sama persis dengan simbol perdamaian, inti dari paham liberal adalah mencapai stabilitas lewat perdamaian. Salah satu caranya adalah dengan menggelontor rakyat dengan tayangan penuh hiburan dan tawa demi mendapatkan perdamaian dan menghindari kegelisahan. Ya, dan kita selalu bisa menyalahkan MTV.

Ngambil dari http://skreened.com/obama2008/patriotic-peace-hand-barack-obama-shirt. Damai bro.


Jangan lupa, dalam beberapa kasus, pemerintahan liberal juga bisa berperan sebagai “gunting” untuk “memotong” para perusak stabilitas. Amerika Serikat, misalnya.

Komunisme
Dalam suit standar sama dengan penggambaran kertas. Digambarkan oleh tangan terbuka. Mewakili pengertian masyarakat tanpa kelas khas komunisme. Ketika semuanya sudah setara seperti tangan yang terbuka tanpa ada jari yang lebih tinggi daripada jari yang lain, maka saat itulah mimpi para kaum komunis tercapai. Saat gaji dokter sama dengan gaji buruh, misalnya.

Simbol komunisme selain palu dan sabit (diambil dari wikipedia.org)


Jangan lupa, 5 jari di tangan anda juga mewakili bintang simbol komunisme yang memiliki 5 jari. Jangan salah paham dengan bintang Dawud milik Yahudi yang memiliki 6 jari.

Anarkisme
Dalam suit standar sama dengan penggambaran batu. Clenched fist. Tangan terkepal. Menggambarkan perlawanan yang penuh semangat atas segala penindasan.

Salah satu simbol anarkisme (diambil dari wikipedia.org)


Walaupun bentuknya kepalan tangan, jangan salah kaprah mengartikan anarkisme dengan kekerasan karena anda akan dimarahi para pseudo-anarcho di Twitter.

Siapa mengalahkan siapa
Liberalisme mengalahkan komunisme. Seperti dalam pertandingan suit standar di mana gunting mengalahkan kertas, liberalisme mengalahkan komunisme. Siapa yang mau hidup di masyarakat tanpa kelas di mana gaji seorang dokter spesialis jantung memiliki gaji yang sama dengan buruh pabrik rokok? Jika dihadapkan pada pilihan komunisme dan liberalisme, tentu orang lebih memilih dunia yang penuh hiburan dibanding dunia yang maksudnya adil tapi malah menjadi tidak adil.

Lalu, liberalisme dikalahkan oleh anarkisme. Saat manusia hidup dalam kebebasan gaya paham liberalisme, mereka akan mampu mengakses informasi sebanyak mungkin, dan mereka akan menemukan paham yang mengajarkan kebebasan mutlak tanpa otoritas dan aparat. Lalu mereka akan memilih kehidupan anarkisme yang menawarkan kebabasan mutlak daripada liberalisme yang memberikan kebebasan semu. Oh ya, masyarakat akan menemukan paham anarkisme bukan dari buku tapi melalui V for Vendetta.

Komunisme mengalahkan anarkisme. Kertas mengalahkan batu seperti komunisme mengalahkan anarkisme. Saat masyarakat mengalami kebebasan sebebas-bebasnya, dan muncul beberapa kekacauan karena ada pihak-pihak yang belum cukup dewasa menikmati kebebasan, saat itulah beberapa orang akan merindukan keadaan yang stabil. Untuk mendapatkan kontrol penuh atas masyarakat yang sedang menikmati gempita kebebasan mutlak, pemerintahan yang otoriter dengan tangan besi a la Stalin diperlukan. Maka dari itu, komunisme mengalahkan anarkisme.

Bagaimana dengan fasisme? Kaum fasis dengan gaya nazi salute punya gaya suit sendiri untuk menentukan giliran jaga dalam permainan petak umpet. Nama suit khas Jawa ini adalah wo dowo. Seperti diperagakan oleh Adolf di foto yang diambil dari sini.

wo dowo sing dowo nazi eh dadi.

Eh judul artikel ini sudah kayak judul thread di Kaskus belum?

The Conjuring dan Hal-Hal Lainnya

by ary
Categories: Iseng
Tags: No Tags
Comments: No Comments
Published on: July 31, 2013

Malam-malam akhir bulan Ramadan ini, saya nonton The Conjuring untuk mengurangi rasa takut saya. Yaaa, maklum sih, saya jarang sekali nonton film horor dan The Conjuring sepertinya bisa memberi trauma yang panjang. Paling tidak, saat bulan puasa para setan masih dibelenggu.

The Conjuring sendiri membuat saya mencengkeram kursi bioskop dengan kencang. Frekuensi kemunculan hantunya yang lumayan sering, ditambah cerita tentang boneka anak-anak (salah satu hal yang paling saya benci selain badut), dan didukung tulisan yang menyebutkan bahwa film ini berdasar kisah nyata.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah mengenai Bathsheba, karakter hantu yang menjadi tokoh sentral. Arwah jahat dalam film ini diceritakan selalu muncul saat jam 03.07 dini hari yang pada bagian tengah cerita disebutkan merupakan jam dia gantung diri dulu. Dalam kepercayaan masyarakat barat, jam 3 dini hari dikenal dengan istilah witching hours, devil hours, dan berbagai julukan tidak mengenakkan lainnya. Konon, saat jam-jam ini, setan bermunculan untuk mengganggu umat manusia. Kenapa setan memilih jam 3 dini hari, karena menurut kepercayaan orang barat, jam tersebut adalah simbol penghinaan mereka kepada Tuhan. Sebagaimana simbol salib dibalik yang diartikan menghina Kristus, jam 3 pagi itu menunjukkan penghinaan mereka kepada Tuhan karena Yesus diceritakan meninggal di tiang salib saat jam 3 sore.

Ada juga penjelasan yang lebih ilmiah mengenai jam 3 dini hari ini. Pada jam-jam tersebut, sistem kekebalan tubuh manusia jatuh pada titik terendah, sehingga sering sekali kita menemukan seseorang meninggal dunia pada jam 3 sampai jam 5 pagi.

Dan memang dalam kepercayaan agama saya, diisyaratkan untuk sebaiknya terjaga pada jam-jam sepertiga malam terakhir tersebut untuk beribadah. Bisa dimulai sembahyang sunnah, lalu dilanjutkan dengan sembahyang Subuh. Jadi, kalau memang saat itu seseorang harus dipanggil Tuhan, dia dalam kondisi sedang menyembah kepada-Nya.

Lalu mengenai keluarga korban yang diserang Bathsheba. Keluarga tersebut memiliki 5 orang anak perempuan. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, 5 orang anak perempuan ini disebut Pandawi dan harus diruwat supaya tidak “dimakan” Betara Kala. Ada 15 katagori manusia yang diizinkan untuk “dimakan” oleh Batara Kala; misalnya Sendang Kapit Pancuran (sulung bungsu cowok, yang tengah cewek), Pancuran Kapit Sendang (sulung bungsu cewek, yang tengah cowok), Pandawa (5 orang cowok semua), dan Pandawi. Sepertinya setan dalam The Conjuring ini memilih mangsanya dengan sangat akurat…

Baiklah, film ini sendiri berakhir dengan bahagia ketika sang setan yang merasuki ibu dari kelima anak perempuan tadi berhasil diusir dengan bacaan dari Injil. Paling tidak, film ini sudah berusaha melawan dominasi film-film hantu Indonesia, tayangan seram di TV yang mana digambarkan setan-setannya takluk oleh kyai, dan film-film Hong Kong lama yang menunjukkan bahwa ajaran Khong Hu Cu mampu memberantas para vampir. Suatu angin segar bagi kemajemukan bangsa Indonesia…

The Wolverine Hanya Untuk Penggemar X-Men Kelas Berat

by ary
Categories: Uncategorized
Tags: No Tags
Comments: No Comments
Published on: July 25, 2013

Malam tadi setelah buka puasa, datanglah pesan singkat berisi, “ayo nonton wolferine.” Sambil tepok jidat membayangkan betapa mudah image sesuatu jatuh karena kesalahan penulisan, sayapun menjawab iya. Akhirnya kami berlima, cowok semua, nonton bareng di bioskop Matos yang mahal itu. Saya tuliskan sedikit ulasannya. Waspadalah bahwa ulasan saya mengandung spoiler. Oh ya, ulasan ini bersifat subjektif. Sangat.

5 menit pertama -seperti halnya film Hollywood standar- sudah penuh ledakan. Diawali oleh peristiwa bom Nagasaki tatkala Wolferine Logan menyelamatkan seorang perwira Jepang. Well, jika di Inception ada mimpi dalam mimpi, di The Wolverine juga ada adegan mimpi dalam mimpi. Semirip adegan Ary Wibowo melihat Lulu Tobing mati lalu pihak sutradara memutuskan bahwa semua itu hanya mimpi.

Beberapa saat kemudian, film ini bergerak lambat menceritakan kehidupan Logan pasca bubarnya X-Men. Beberapa scene yang menurut saya tidak perlu. Misalnya kemunculan beruang yang dibunuh oleh gerombolan pemburu. Loganpun menuntut balas dan acara pembalasan dendam ini secara dramatis membuat saya berpikir bahwa para makhluk bercakar memiliki solidaritas istimewa.

Lalu muncul seorang gadis harajuku bernama Yukio yang diperankan seseorang mirip Sule. Maafkan pandangan subjektif saya, teman-teman. Tapi sungguh beliau mirip Sule jika rambutnya dicat kuning.

Wolverine lantas bertemu dengan perwira Jepang yang dulu ia selamatkan. Perwira tersebut sudah kaya raya dan dia sedang dalam kondisi sekarat. Setelah beberapa menit percakapan filosofis tentang hidup, mati, dan keabadian, akhirnya sang veteran renta itu meninggal.

Lalu muncul Yakuza. Ledakan lagi. Bunuh-bunuhan lagi. Oh ya, Logan sempat kehilangan kemampuan memulihkan dirinya dalam film ini. Dalam film ini, hanya ada satu mutan lain selain Logan. Yukio, gadis mirip Sule, memang memiliki kemampuan melihat masa depan, tetapi dia bukan mutan.

Setelah beberapa kali ledakan, tembak-tembakan, dan beberapa tawa yang disebabkan oleh omongan Logan yang ngasal, film ini berklimaks pada peperangan antara dua sosok berunsur logam adamantium. Dan happy ending. Dan saya bisa segera makan nasi karena sedari buka tadi saya cuma sempet makan bakso.

Beberapa kali saya tidak cukup paham konflik dasar film ini yang dibangun antara si kakek veteran tersebut dengan cucunya, lalu kemunculan bapak menteri keadilan, lalu kenapa ada yakuza, lalu kenapa jika si cucu ketangkep tapi malah disetor ke bapaknya sendiri, dan beberapa hal mendasar lainnya. Jika anda memang penggemar berat X-Men, silakan nonton. Jika sebelum nonton anda dalam keadaan lapar seperti saya tadi, mending uang karcis bioskopnya dipakai beli pa-he di McD terdekat.

Kerja Dengan Relawan Peace Corps

by ary
Categories: Iseng
Tags: No Tags
Comments: 4 Comments
Published on: July 23, 2013

Postingan pertama setelah blog ini sempat mati untuk beberapa saat. Bulan Mei lalu saya berkesempatan menjadi community liaison bagi para relawan Peace Corps yang sedang melakukan pelatihan bahasa dan budaya di Batu. Sebagaimana namanya, tugas community liaison (CL) adalah menjadi pendamping para relawan asal Amerika Serikat itu saat masa pelatihan selama 10 pekan di Batu. Setelah masa pelatihan selesai, mereka akan diterjunkan untuk menjadi pengajar bahasa Inggris di daerah-daerah terpencil di Jawa Timur dan Jawa Barat. Jadi jika di daerah anda ada relawan Peace Corps, bisa diasumsikan menurut pemerintah Amerika Serikat daerah anda termasuk daerah tertinggal. Dan daerah saya di Blitar sana selalu ada relawan Peace Corps setiap tahunnya..

Sebelum memulai tugas, saya sempat googling soal Peace Corps dan menemukan banyak artikel tulisan orang Indonesia yang banyak berisi kecurigaan mereka bahwa para relawan ini adalah mata-mata CIA, adalah agen kristenisasi, dan saya tidak meneruskan pencarian ini karena sepertinya ujung-ujungnya mengarah ke dugaan bahwa para relawan itu merupakan para anggota Freemasonry, Illuminati, Skull and Bones, dan semua organisasi rahasia yang ada di Kaskus. Saya memutuskan untuk mengambil sikap netral mengingat pekerjaan ini bayarannya lumayan. Halah.

Saat masa pelatihan selama 10 pekan ini, para relawan tinggal bersama keluarga asuh mereka yang merupakan penduduk di desa-desa yang ada di Batu. Saya bertanggungjawab atas 6 orang relawan yang menempati desa Sidomulyo, desa yang penuh dengan taman dan kebun bunga indah. Tinggal dengan keluarga asuh ini membuat mereka “terpaksa” menggunakan bahasa Indonesia karena kebanyakan anggota keluarga asuh mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Salah satu ibu asuh yang saya kenal baik malah kurang mampu berbahasa Indonesia.

Hari pertama pertemuan dengan mereka, saya bertugas mengantarkan 6 orang relawan dan mempertemukan mereka dengan para keluarga asuh mereka yang tinggal di desa Sidomulyo. Dengan tingkat kepercayaan diri nan tinggi, saya membercandai seorang relawan bernama Andorra dengan menyebut dia menggunakan nama keluarga ditambah kata miss. Hasilnya, saya mendapatkan, “yeah, whatever..” pertama saya. Pahit.

6 orang relawan yang saya tangani adalah:

Margaux
Dibaca Margo. Nama yang menurut saya sangat klasik. Ibu asuhnya sempat tertawa terpingkal-pingkal saat membaca nama ini. “Namanya kayak orang Jawa ya mas, Marji, Marno, Margaux.” Margaux ini adalah seorang perempuan kuat dengan latar belakang pendidikan seni teater. Saat terlihat tato di mana-mana dengan tindikan yang lebih banyak dari jumlah anggota kesebelasan, saya sempat berpikir bahwa dia adalah seorang seniman bohemia yang seram. Ternyata tidak. Margaux adalah seorang pecinta anak-anak kelas berat yang juga menggemari Batman. Dia sangat bahagia mengetahui bahasa Indonesia memiliki kosakata “gemas” yang mewakili perasaannya saat melihat anak-anak. Menurut Margaux (2013), gemas itu adalah “the children are so cute that you want to eat them.” Margaux juga seorang teknisi listrik.

Margaux, Courtney, dan seorang pribumi.

Alan
Pria baik-baik berkacamata minus dan memiliki hobi main game Pokemon. Dia tidak minum minuman keras, tidak merokok dan dia mempunyai hobi membaca dan menulis sastra. Margaux menganugerahkan panggilan princess Alan. Salah satu teman diskusi yang menyenangkan. Ibunya orang Afganistan yang menikah dengan orang Amerika. Alan menguasai mitologi dan kami sering berdiskusi mengenai perbandingan mitos Indonesia dengan Eropa di rumah keluarga asuhnya yang menyenangkan. Alan dan Margaux pernah menonton openmic Standup Indo Malang. Untuk menghormati kedua tamu ini, beberapa penampil di openmic menggunakan bahasa Inggris. Termasuk saya yang akhirnya untuk kali pertama standup dengan menggunakan bahasa Inggris. Tiga menit penuh sumpah serapah. Blah. Saat kepergok main Pokemon, si princess ini ngeles “everybody loves Pokemon.”

Jason
Berasal dari Chicago, sepertinya Jason harus siap untuk terus menerus ditanya tentang Chicago Bulls. Seorang ahli gizi yang sangat suka sambal. Ibu asuhnya beberapa kali membanggakan anaknya ini sebagai orang yang njawani karena setiap makan selalu minta sambal. Jason ini pernah ikut saya siaran di radio Kalimaya Bhaskara FM. Saat itu kami membahas musik. Jason yang setiap pagi oleh keluarga asuhnya dicekoki tayangan musik seperti Inbox dan Dahsyat tahu juga soal Coboy Junior. Menurutnya, “Coboy Junior is just Justin Bieber clone.”

Alex
Seorang gadis lucu nan imut keturunan Hong Kong. Seorang insan yang baik karena dia tidak pernah marah saat saya jadikan objek bercandaan rasial. Saat pelatihan CL dulu, kami sudah diwanti-wanti untuk menghindari joke tentang SARA. Tapi apa daya. Alex ini terlalu lemah untuk melawan dominasi saya yang merupakan bagian kaum mayoritas. Satu-satunya perlawanan yang bisa dia berikan adalah terus menerus menyebut saya “a useless CL.” Biarpun begitu, Alex sudah berjanji untuk datang di pernikahan saya dan dia juga ingin menggendong bayi saya kelak.

Andorra
Gadis berkacamata ini selalu membawa Nintendo DS ke mana-mana. Saat teman-temannya sibuk membahas tugas pelajaran bahasa Indonesia, si Andorra ini tetap lebih memikirkan karakter yang ia jalankan di gamenya. Setelah tragedi “yeah, whatever..” Andorra menjadi baik sekali ke saya. Mungkin karena dia pernah heran saat saya tahu bahwa namanya diambil dari nama negara tidak terlalu terkenal. Menurutnya, sedikit sekali orang yang mengenali namanya adalah juga nama negara. Salah satu yang pendiam. Saat teman-temannya bernyanyi sepanjang jalan menuju tempat kelas pelajaran budaya, dia memilih untuk tetap diam.

Courtney
Menari dan menyanyi. Musik satu ketukan pun bisa membuatnya menari. Satu kata juga bisa membuatnya bernyanyi. Jika anda sempat melihat sekelompok orang berkulit putih jalan kaki sambil bernyanyi-nyanyi di daerah Sidomulyo dan anda memperhatikan pemimpin kawanan tersebut, berarti anda pernah melihat Courtney. Satu kesalahan paham antara saya dan Courtney sempat marah besar. Dan sayangnya kemarahan tersebut terjadi di akhir masa tugas saya menjadi pendampingnya. Jadi sepertinya kebersamaan kami berakhir dengan kurang menyenangkan. Satu-satunya cara untuk menebus kesalahan saya adalah dengan melunasi janji untuk mengajarinya mengumpat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Dan jangan khawatir Courtney, naskah pengenalan mengumpat itu sedang saya susun.

Sekarang mereka telah menyelesaikan pelatihan bahasa Indonesia dan mereka telah ditempatkan di berbagai daerah. Saya pikir seorang seniman ahli listrik, seorang princess penggemar Pokemon, seorang penonton Inbox, seorang gadis pecandu game, seorang perempuan lucu dari ras minoritas, dan seorang cewek penari yang riang, tidaklah cukup mampu menggambarkan kekerenan seorang agen mata-mata.

Cara Mengakrabkan Teman Dengan Para Orang Penting

by ary
Categories: Iseng
Tags: No Tags
Comments: No Comments
Published on: November 14, 2012

Dalam budaya masyarakat Indonesia, memanggil orang penting itu memerlukan kata sapaan. Coba panggil dosen, pejabat, orang yang lebih tua, atau lebih tinggi status sosialnya tanpa menggunakan kata sapaan pak atau bu. Efeknya bisa panjang dan menakutkan. Hanya mereka-mereka yang akrab saja dengan para petinggi ini yang bisa memanggil nama tanpa kata sapaan.

Dengan berpegangan pada fakta ini, kita bisa membuat teman-teman kita sedikit lebih akrab dengan para orang penting. Anda hanya perlu sedikit waspada, sedikit hati-hati, dan yang lebih penting, anda harus bisa bermain kata-kata.

Waktu semester 2 dulu, Saya pernah punya dosen bernama pak Ary. Namanya memang sama dengan saya tapi beliau ini sungguh angker. Beliau pintar, tapi nyaris tak pernah ada senyum di wajah beliau. Melihat hal ini, saya tidak tinggal diam. Saya lalu membuat teman saya yang bernama Wilda sedikit lebih mengakrabi beliau. Suatu saat, Wilda sedang ngobrol sama saya dan saya melihat pak Ary sedang berjalan sekitar 5 meter dari posisi kami berdiri.

Saya langsung bertanya kepada Wilda, “Wilda, kamu ngobrol sama saya gini emang kamu tahu nama saya?” Wilda menjawab, “Nama kamu Ary kan?” Untuk lebih memastikan pak Ary mendengar percakapan kami, saya ulangi pertanyaan saya dengan suara lebih keras, “Nggak denger, nama saya siapa?” Wilda nampak emosi dan mengulangi jawabannya dengan suara keras pula, “Ary Ary, nama kamu Ary!” Setelah saya yakin bahwa pak Ary mendengar suara Wilda, saya segera berlari menyelamatkan diri dari amarah pak Ary. Nasib Wilda? Alhamdulillah, dia baik-baik saja. Dia baru saja menikah beberapa hari lalu. Selamat ya Wilda.

Kemudian, mengakrabkan teman-teman saya dengan ibu dekan Bahasa dan Sastra adalah salah satu misi saya. Ibu dekan saya waktu memang baik. Walaupun kadang bu Tabiati sering marah saat lihat mahasiswa pakai kaos, tetapi beliau bukan pendendam. Nah, saat teman-teman saya sedang mengobrol, seperti yang Pandji Pragiwaksono lakukan di kuisnya dulu, saya berinisiatif mengajukan pertanyaan trivia, “Hayoo nama kipernya AC Milan Christian siapa? Pasti nggak ada yang tahu kaaan?” Sesaat sebelum mereka kompak berteriak “Abbiati!!” saya sudah lari karena ibu Tabiati hanya sepelemparan batu dari posisi duduk kami.

Saya pernah juga membuat seorang teman yang tidak perlu saya sebutkan namanya memanggil pak Yogi Sugito, bapak rektor kami, dengan akrabnya. Tapi harus diakui pada waktu itu saya juga nyaris kena. Saat saya belum siap lari, teman saya keburu menyebutkan karakter utama dalam serial kartun Oggy and the Cockroaches dengan lantang.

Have fun.

Tetangga Sayapun Bekerja di Batan

by ary
Categories: Bahasa
Tags: No Tags
Comments: 2 Comments
Published on: November 13, 2012

Lebaran tidak hanya sekadar menyelesaikan Ramadan dan menyambut kemenangan, atau soal kekuatan perut kita menghadapi biskuit Khong Guan, tapi soal menjawab pertanyaan. Kapan lulus, kapan nikah, kapan pulang, dan kapan-kapan lainnya.

Salah satu f.a.q lain yang muncul saat saya mengunjungi tetangga di waktu lebaran adalah soal pekerjaan. Saat itu pula saya sempat kaget saat tahu bahwa banyak tetangga saya yang berkerja di batan. Setelah beberapa lama meninggalkan Wlingi kota kelahiran saya untuk kuliah dan bekerja di Malang, saya merasa bahagia karena cepat sekali perkembangan kota asal saya yang bahkan tak sebesar perumahan Araya di Malang.

Saya bahagia karena kota sekecil Wlingipun akhirnya memiliki banyak tenaga profesional yang bekerja di Batan, begitu pikir saya waktu itu. Setelah melewati beberapa rumah dengan heran, akhirnya saya tak kuat didera penasaran dan bertanya ke ibu, batan itu maksudnya apa. Sambil tersenyum lebar, ibu saya menjawab, “batan yo batan, le. tempat untuk bakar bata.”

Sambil menepuk jidat, saya ingat aturan dalam bahasa Jawa di mana setiap kata yang menunjukkan tempat, biasanya berubah suku kata terakhirnya. Misalnya, kabupaten dari kata kebupatian, lalu keputren dari kata keputrian. Ada juga kata rotoan atau jalan raya yang berubah menjadi ratan. Jadi, batan di sini maksudnya bukan Badan Tenaga Atom Nasional, tapi tempat di mana bata dibuat, dikumpulkan, lalu dijual.

Saya jadi ingat cerita Yudiz teman saya dulu waktu kunjungan di kampus Universitas Malaya Kuala Lumpur. Saat begadang sambil kangen rumah, Yudiz yang anak Universitas Trisakti ini pernah cerita tentang dosennya yang orang Sunda. Seperti kita ketahui, orang Sunda punya kecenderungan untuk menggabung dua kata yang berulang menjadi satu kata. Misalkan, pohon-pohon menjadi popohonan, mobil-mobil menjadi momobilan. Kurang lebih sama dengan tren gegara, tetiba, dan sejenisnya di media sosial sekarang.

Saya dan Yudiz; a perfect 10.

Dalam cerita si Lele, begitu si Yudiz biasa dipanggil, si bapak dosennya ini akan pergi kuliah di Amerika Serikat. Saat perpisahan di kelas, ada yang bertanya, “bapak nanti di Amerika makan apa, pak? Kan nggak ada nasi.” Dengan logat Sunda yang kental, si bapak menjawab bahwa makanannya nanti yang model mekdi-mekdi (McDonald’s) lah. Tentu si bapak dosen mengucapkan kata mekdi-mekdi dengan cara seperti dijelaskan di atas.

ps. salah satu teman sekelas Yudiz ada yang bernama Dian.

Cara Mengerjai Handphone Teman

by ary
Categories: Iseng
Tags: No Tags
Comments: No Comments
Published on: November 11, 2012

Jauh sebelum kegiatan bajak-membajak BlackBerry orang lalu mengganti status BBM-nya mewabah, saya sudah punya cara untuk membuat teman tersiksa tanpa harus membuatnya malu. Tentu tidak ada kesenangan yang gratis karena anda akan memerlukan sedikit biaya untuk kesenangan ini.

Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut. Ambil handphone teman. Kalau di handphone tersebut sudah tersimpan nomor telepon anda, ganti nama anda dengan 9090, 9877, atau nomor layanan SMS premium lainnya.

Kemudian, dengan menggunakan handphone teman anda, kirimkan SMS ke nomor anda sendiri (yang sudah diganti dengan nama 9090, 9877, dsb) dengan pesan berisi reg ramal nama, reg weton, dan sejenisnya.

Jika SMS tersebut sudah masuk, balas SMS itu dengan kalimat “registrasi berhasil. silakan masukkan tanggal lahir anda untuk mendapatkan ramalan terbaru dari Master Deddy Corbuzier” atau dengan kalimat sejenis.

Ramalan untuk anda langsung dari handphone saya

Jika korban anda mengetik SMS berisi UNREG, balas dengan kalimat “proses unregistrasi gagal, silakan masukkan tanggal lahir anda untuk mendapatkan ramalan terbaru dari Master Deddy Corbuzier” atau dengan kalimat senada. Ulangi terus sampai bosan.

Have fun.

ps. Handphone merek Nokia adalah target paling ideal. Pastikan pulsa anda minimal bisa dipakai untuk mengirim dua SMS.

Persetan Dengan Plesetan

by ary
Categories: Bahasa
Tags: No Tags
Comments: No Comments
Published on: November 11, 2012

Dari dulu, saya senang sekali bermain kata-kata. Sejak SMP, saya sudah sering sekali memplesetkan lirik lagu atau kata-kata tertentu yang diucapkan guru. Salah satu lagu plesetan saya yang lumayan terkenal waktu kuliah dulu adalah lagu Sampai Nanti Sampai Mati karya Letto.

Liriknya seperti ini:

Jika kamu pernah onani,
sama.
Jika kau pernah masturbasi,
aku juga iya.

dan sering kali,
siang, malam, dan pagi,
di setiap hari,
pakai tangan kiri,
nikmat sekali.

Lirik sisanya berisi hal-hal yang berhubungan dengan kata hangat dan nikmat supaya berima dengan kata semangat. Tidak perlu saya tuliskan.

Lagu lain yang pernah saya plesetkan adalah lagu Balonku. Silakan anda nyanyikan lirik lagu tersebut dengan menggunakan irama lagu Syukur. Berbeda dengan versi asli lagu Balonku yang menggunakan lima balon, anda harus memakai tiga balon supaya pas sampai bagian akhir dari lagu wajib nasional tersebut.

Kaos buatan saya, silakan hubungi untuk pemesanan xD

Nah, hingga akhirnya saya menjadi pengajar bahasa Inggris honorer di suatu perguruan tinggi swasta sekarang, saya tetap senang bermain plesetan atau untuk saat ini saya pakai istilah yang lebih keren, wordplay. Saya berusaha mengembangkan teknik menghafalkan kosakata dengan menggunakan plesetan atau permainan kata.

Salah satu contoh favorit saya adalah; ringan atau mudah sama dijinjing, berat atau susah sama dengan difficult.

Contoh lainnya adalah kata demure. Ada tren kata gaul beberapa waktu lalu di Twitter, yaitu mureee yang berarti murahan. Demure berarti pendiam. Jadi, de yang bisa bermakna tidak, ditambahkan pada kata mure, membentuk kata tidak murahan. Karena memang tidak ada orang murahan yang pendiam, bukan?

Tidak hanya plesetan saja, saya juga mengajarkan murid-murid saya untuk memecah kata. Misalkan, kata brag yang berarti membual atau menyombong. Silakan bagi kata brag ini dalam dua bagian; bra + g. Jadi, kalau anda ketemu seseorang yang bilang bahwa dia punya ukuran bra G, anda tahu bahwa dia sedang membual.

Anda bisa bahasa Jawa? Anda juga bisa memakai beberapa ungkapan dalam bahasa Jawa untuk mengingat kosakata tertentu. Misalkan, kata sorrow yang dekat secara makna dan pelafalan dengan kata soro yang berarti sengsara. Anda juga bisa memakai kata muring-muring untuk mengingat kata murmuring. Belum lagi kata summer dengan kata sumer yang dalam bahasa Indonesia berarti (musim) panas.

Daaaan, seiring serangan kata-kata ciyus miapah enelan ditambah gegap gempita Korean Wave, saya berhasil menyimpulkan bahwa kata sayang itu adalah bentuk imut dari kata sarang.

Faedah File Foto Facebook

by ary
Categories: Iseng
Tags: No Tags
Comments: No Comments
Published on: February 13, 2012

Seperti saya ingatkan bertalu-talu sedari dahulu, jangan pernah menggunakan file foto dari Facebook untuk avatar atau gambar latar belakang akun Twitter anda, kecuali anda sudah mengubah nama filenya, atau anda memang ingin distalk.

Nama file itu bisa membawa seseorang ke akun Facebook anda dan mempermudah orang tersebut melakukan riset untuk menggali pengetahuan tentang anda. Walaupun anda sudah melindungi akun Facebook anda dengan mengaturnya agar tidak muncul dalam pencarian, nama file tersebut tetap bisa membuat seseorang menemukan akun Facebook anda.

Caranya seperti ini: anggap saja anda menemukan sebuah file foto Facebook yang bisa anda kenali dari namanya yang unik, misalnya 225286_1017489071185_1043867782_30071874_1338_n.jpg. Saya menggunakan file foto dari akun pribadi sebagai contoh. Deret angka ketiga dari belakang adalah id akun di mana foto tersebut berasal. Jadi, dari file foto 225286_1017489071185_1043867782_30071874_1338_n.jpg, id akun yang saya maksud adalah angka 1043867782.

Masukkan angka 1043867782 tersebut ke dalam url https://www.facebook.com/profile.php?id=[nomor deret ketiga] sehingga anda akan mendapatkan url https://www.facebook.com/profile.php?id=1043867782. Voila, anda menemukan akun Facebook saya.

Have fun.

page 1 of 2»

Welcome , today is Sunday, April 20, 2014