Bapak yang Saya Kenal

Posted by

Mundokiddo.com – Apakah masa SMA anda dijalani dengan tradisi yang sama dengan masa SMA saya? Bukan, saya tidak sedang bicara tentang masa pacaran atau masa tawuran. Tradisi di SMA saya adalah menggunakan nama ayah sebagai bahan bercanda.

Saya menjalani masa SMA mulai tahun 2000. Anda masih ingat lagu dangdut yang paling terkenal pada awal 2000an? Iya, judulnya Bang Thoyib. Kebetulan nama bapak saya sama dengan sang tokoh utama yang tak pernah pulang dalam lagu tersebut. Anda bisa membayangkan sendiri betapa deras terpaan tawa hinaan yang saya terima pada masa itu…

Almarhum bapak saya adalah haji pertama di desa saya yang cenderung bercorak abangan. Beliau juga yang memulai pendirian masjid di bagian utara daerah tinggal kami di desa Tumpuk kelurahan Tangkil kabupaten Blitar. Beliau yang bergelar BA atau sederajat sarjana muda ini juga mengajar para guru Pendidikan Agama Islam yang mencari gelar S1. Posisinya di masyarakat menyebabkan saya menjalani masa kecil yang lumayan keras.

Misalnya saat saya kelas 5, ada satu pertanyaan saat ulangan yang takkan pernah saya lupakan. Isi pertanyaannya adalah:
Apakah ibadah yang menghilangkan jarak antara si kaya dan si miskin?
A. Puasa
B. Haji
C. Salat
D. Zakat

Waktu itu, saya menjawab haji. Sang guru agama serta-merta menyalahkan saya. Menurut beliau dan kunci jawaban, jawabannya adalah zakat. Tak lupa ia sedikit mencemooh saya karena beliau adalah salah satu murid bapak. “Katanya anaknya gurunya guru agama, masak jawab pertanyaan begitu saja salah. Dari mana bisa ibadah yang menghilangkan jarak orang kaya dan orang miskin kok haji?!” kurang lebih begitu cemoohan yang ia berikan. Teman sekelas tertawa terbahak-bahak.

Sayangnya saya waktu itu belum bisa menyampaikan alasan kuat bahwa justru zakat yang membentangkan jarak antara si kaya dan si miskin. Jarak itu akan muncul karena identitas si kaya dan si miskin akan jelas; si pemberi zakat itu yang kaya dan yang menerima itu yang miskin. Bandingkan dengan haji yang menghapus perbedaan karena semua orang akan berbaju sama, beribadah sama, di tempat yang sama. Beda di oleh-oleh saja. Perkara orang miskin bisa dapat duit untuk haji dari mana, itu di luar konteks pertanyaan. Bisa saja dari undian, sumbangan, atau dari manapun.

Beberapa hari kemudian, bapak memanggil saya dan bercerita kalau pak guru agama bercerita soal pilihan jawaban saya di kelas. Bapak tidak menyalahkan pilihan saya. Beliau hanya menyuruh saya untuk lebih berani mengajukan pendapat di kelas supaya tidak kelihatan asal jawab.

Sebagai anak kecil yang hidup di pedesaan, tidaklah keren kalau belum berani merokok. Saya mulai mencoba rokok saat kelas 2 SD secara sembunyi-sembunyi di hutan bambu bersama seorang kakak sepupu. Pada suatu waktu ketika saya sedang berlatih merokok, ada seorang tetangga yang lewat dan saya lari bersembunyi di semak-semak. Tapi terlambat. Dia mengenali badan saya yang memang lebih gemuk dibandingkan anak-anak kecil lain di situ. “Heh, kamu Arik ya? Kamu merokok ya?” dia bertanya kepada saya yang sedang bersembunyi di kerimbunan daun. “Bukan, saya bukan Arik,” jawab saya takut-takut. Pilihan yang bodoh. Dia mengenali suara saya dan melaporkan ini ke keluarga.

Malamnya, saya disidang oleh bapak dan ibu di ruang keluarga. Bapak saya memang pernah merokok, tapi dia berhenti setelah menjalani operasi usus buntu. Waktu itu, ibu saya memarahi saya habis-habisan. “Kenapa kamu merokok? Mau jadi apa kamu merokok?” ibu mencecar saya dengan pertanyaan. Bapak menimpali pelan, “kalau aku sih merokok karena kakekmu dulu punya pabrik rokok, jadi ya wajar…” Hehehe ternyata hal ini sukses membuat ibu mengalihkan amarah ke bapak. Mereka berdebat sendiri dan saya bisa kabur dengan aman.

Saya selalu menganggap bahwa bapak adalah orang yang cuek. Pada saat kenaikan ke kelas 3, saya gagal masuk IPA karena nilai Matematika saya 6. Saya takut setengah mati saat pulang. Bahkan ibu saya tidak berani menemani saya menghadap bapak untuk memberitahu soal saya yang gagal masuk IPA. Jadi saya sendirian menemui bapak yang sedang tidur siang. Saya bangunkan beliau pelan sambil bilang kalau saya gagal masuk IPA. Ayah saya membuka mata, bertanya “tapi masih naik kelas kan?” Setelah saya mengiyakan, diapun membalik badan dan meneruskan tidur siangnya. Saya menyesal kenapa tadi harus takut.

Waktu kuliah di Malang dan memasuki semester akhir saat mengerjakan skripsi, sayapun menjalani hidup santai. Karena sudah tidak ada kuliah saya bangun siang hampir setiap hari. Hingga pada suatu hari, saat jam 8 pagi, pintu rumah saya di Malang diketok orang. Untung saya sudah bangun. Ternyata bapak datang dari Blitar. Dengan mengendarai sepeda motor menempuh jarak 60an kilometer, ia datang mengunjungi saya. Padahal waktu itu, usianya sudah sekitar 63 tahun. “Di mana tempat makan yang enak di sekitar sini?” adalah pertanyaan yang ia ucapkan. Lalu saya mengajak beliau makan di warung di dekat rumah. Kami makan berdua sekitar 30 menit. Kemudian dia memberikan uang 100 ribu, lalu segera pulang ke Blitar lagi. Jam 12 siang, ibu SMS saya kalau bapak sudah sampai di rumah Blitar.

Oh ya, sekitar tahun 1998, saat gelombang gerakan reformasi menghancurkan rezim Orde Baru, sosok yang sering muncul di televisi adalah Amien Rais. Entah kenapa saat itu setiap Amien Rais muncul di TV, bapak langsung mematikan TV. Menunggu beberapa saat, lalu menyalakannya lagi. Jika Amien Rais masih ada di layar kaca, TVnya akan segera mati lagi. Dahulu saya tidak berani bertanya alasannya.

Nah, kisruh pemilu presiden tahun 2014 ini akhirnya memberikan sedikit penjelasan atas perilaku bapak dahulu.

Ada ungkapan yang isinya janganlah menyesali apa yang kita lakukan di masa lalu. Tapi jika memang harus ada penyesalan, mungkin penyesalan terbesar saya adalah gagal menyelesaikan skripsi saat bapak meninggal 16 Januari 2008. Bapak yang berusia 64 tahun waktu itu sepertinya terlalu capek setelah menjalani hajinya yang ketiga di bulan Desember 2007. Beliau hanya semalam di rumah sakit dan meninggal sekitar jam 5 pagi.

Saat membenahi barang-barang bapak, saya menemukan dompetnya. Ternyata orang yang selama ini saya anggap cuek itu menyimpan foto kami sekeluarga. Di dalam raknya, tersimpan rapi pula foto anak-anaknya mulai kecil hingga dewasa. Tak lupa di dalam dompetnya, ia menyelipkan foto ibu saat muda dan saat ibu tua.

Sungguh saya rindu beliau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *