Membuktikan Pepatah Gajah Di Pelupuk Mata Tak Tampak

Posted by

Mundokiddo.com – Skripsi adalah musuh utama mahasiswa, terutama yang malas seperti saya. Tapi skripsi bukan tugas kuliah biasa. Jadi saya selalu berpikir bahwa skripsi harus menjadi karya monumental dalam hidup. Apalagi tidak ada kepastian saya bisa menikmati pendidikan lanjut setelah S1 ini.

Saya menjalani kuliah dengan apa adanya. IPK-pun pas-pasan sedikit di atas 3. Lebih banyak waktu kuliah saya habiskan dengan nongkrong, kerja serabutan, atau sekadar membantu meramaikan acara-acara di kampus. Setelah semua kuliah habis di awal 2007 dan saya hanya perlu mengerjakan momok manusia modern bernama skripsi, kegiatan bergembira-ria semakin sering saya lakukan. Setiap hari saya hanya berkutat dengan kopi, becandaan, bermain game Pokemon atau Football Manager 2005, kopi lagi, sampai pagi.

Selama masa kegelapan ini, di antara jeda mengejar Pokemon atau libur musim panas di game Football Manager, saya sebenarnya masih kepikiran untuk mencari judul-judul skripsi yang sekiranya keren dan bisa dibanggakan. Bongkar-bongkar tugas kuliah, tumpukan novel fotokopian, dan bergiga film, saya mendapatkan 4 judul skripsi dengan pendekatan Marxisme supaya keren, psikoanalisis agar nampak rajin baca, dan dekonstruksi biar kelihatan kritis. Hanya butuh 1 x 24 jam bagi dosen pembimbing dua untuk menolak itu semua.

Dalam kondisi putus asa dan setengah meminta iba, saya bertanya apakah ibu pembimbing saya yang cantik itu memiliki ide judul skripsi yang bisa dihibahkan ke mahasiswanya yang pas-pasan ini. Beliau sungguh baik hati. Dengan sabar, ibu dosen muda yang lulusan kampus Jogjakarta ini bercerita tentang tugas kuliah S2-nya tentang analisis autobiografi Malcolm X. Tak lupa beliau membesarkan hati saya bahwa saya mampu untuk mengerjakan tugasnya dulu yang belum tuntas. Masalahnya sekarang, saya harus mencari buku autobiografi sang tokoh perjuangan hak-hak kaum kulit hitam di Amerika tersebut. Buku punya sang ibu ketinggalan di Jogjakarta dan perpustakaan fakultas tidak menyediakan buku tersebut. Dan saya punya satu alasan lagi untuk bermalas-malasan.

Sekarang saya punya kesibukan lain selain browsing para wonderkid atau mencari walkthrough Pokemon: mencari ebook The Autobiography of Malcolm X. Entah berapa jam paketan internet di warnet dekat rumah saya habiskan demi buku ini. Nihil. Nol besar. Tapi masih ada harapan tersisa. Pada pertengahan 2007, saya punya acara pergi ke Malaysia selama satu bulan untuk program kunjungan ke kampus Universitas Malaya program dari DIKTI. Nah, selain misi kenegaraan tersebut, saya punya misi lain untuk mencari buku autobiografi Malcolm X demi si skripsi.

Tidak perlu waktu sampai seminggu sampai akhirnya saya menemukan buku tersebut di perpustakaan Universitas Malaya yang punya koleksi buku sastra lengkap. Dengan mata berbinar-binar, saya bawa buku tebal tersebut ke tukang fotokopi yang berada dalam gedung perpustakaan tersebut. Kebiasaan asal fotokopi ini sudah melekat erat di kerangka berpikir pelajar Indonesia seperti saya. Namun apa daya, petugas fotokopi keturunan India di perpustakaan tersebut hanya menggelengkan kepala dengan senyum lembut menolak permintaan saya. Hanya 20 halaman saja yang boleh ia fotokopi demi menghormati hak-cipta penulisnya. Suram.

Untuk membunuh kekecewaan, hari-hari di negeri jiran itu akhirnya saya habiskan dengan jalan-jalan, ikut kelas, nongkrong di KFC sampai dini hari, tidur, dan hal-hal santai lainnya. Sungguh malu rasanya jika turut mengkritik studi banding para wakil rakyat jika ingat apa yang dulu saya lakukan. Akhirnya di hari minus satu hari sebelum kepulangan, saya mendapat informasi bahwa ada petugas fotokopi perpustakaan di lantai tiga melayani fotokopi satu buku penuh. Dengan berlari penuh semangat, saya balik ke perpustakaan, mencari buku tersebut, dan segera menemui petugas fotokopi yang baik hati tersebut. Saat berhasil menemuinya, dengan sedikit masygul karena tahu bahwa dia orang Indonesia, saya meminta dia memfotokopi buku tersebut. Dia mengangguk dan mempersilakan saya mengambil hasilnya dua hari ke depan karena ada banyak buku yang sedang dalam antrian untuk difotokopi. Suram. Bahkan persamaan tanah air tak bisa membujuknya mendahulukan buku yang saya minta.

Sambil duduk lemas di bandara menuju penerbangan ke Bangkok, saya tak henti mengutuki diri karena gagal mendapatkan buku autobiografi tokoh keren tersebut. Oh ya, saat teman-teman balik ke Indonesia, saya melanjutkan perjalanan ke Bangkok untuk mengunjungi kakak yang sedang kuliah di sana. Jadi saya benar-benar sendirian di bandara sambil merenungi misi yang gagal.

Saat di ruang tunggu, deretan sebelah saya adalah ruang tunggu penerbangan Kuala Lumpur – Jakarta. Terdengar suara merdu seorang perempuan mengumumkan bahwa pesawat saya mengalami keterlambatan selama sekitar 30 menit. Sambi mengumpat pelan, saya perhatikan bahwa orang-orang di deretan saya nampak biasa-biasa saja. Paling hanya sekadar mendengus lalu meneruskan membaca koran atau segera menelepon sanak saudara atau kekasihnya untuk mengabarkan keterlambatannya. Segera setelah itu, pengumuman berlanjut dengan kabar bahwa pesawat tujuan Jakarta juga akan terlambat. Belum juga perempuan bersuara empuk itu menyelesaikan pengumumannya, suaranya sudah tertelan oleh teriakan protes dan makian riuh para penumpang tujuan Indonesia yang mayoritas saudara sebangsa dan setanah-air saya.

Bangkok dengan penunjuk-penunjuk jalan berbahasa dan beraksara Thai bukanlah kota yang menyenangkan bagi orang yang cuma mampu berbicara bahasa Inggris. Apalagi jika ia malu bertanya. Selama 10 hari di sana, hanya sekali saya pergi sendiri dan itupun pulangnya tersesat lebih dari 5 kilometer karena salah menyebutkan nama daerah apartemen kakak. Kasihan melihat saya cuma di apartemen saja, kakak mengajak saya ke salah satu mall besar di tengah kota untuk mengikuti lomba 17-an. Kebetulan waktu itu pertengahan bulan Agustus dan pihak kedutaan besar Indonesia mengadakan lomba-lomba tujuhbelasan. Salah satunya ya lomba olahraga gelinding bola tersebut. Masak ekspatriat main lomba makan kerupuk atau balap karung? Kita kan sedang menjadi ekspatriat, bukan TKI atau TKW.

Saya yang sampai sekarang tidak berhasil menemukan serunya olahraga itu, tidak cukup sabar untuk terus berada di lokasi permainan dan memutuskan untuk jalan-jalan sendirian. Sambil makan donat, saya muter-muter mall tersebut hingga akhirnya menemukan toko buku Kinokuniya. Okelah, baca-baca buku mungkin bisa membantu menghabiskan waktu, pikir saya waktu itu.

Saking ndesonya, saya senang sekali masuk ke toko buku sebesar Kinokuniya yang jelas jauh lebih besar dari Gramedia atau toko buku Toga Mas di Malang. Tapi apa mau dikata, baru baca dua tiga eksemplar FHM, Playboy, dan majalah-majalah dewasa edisi Thailand di rak majalah, para penjaga toko mulai menurunkan rolling door dan mulai mematikan beberapa lampu. Sambil mendengus kesal, saya beringsut menuju pintu keluar. Saat itu, saya melihat ada buku My Life, buku autobiografi Bill Clinton yang sempat jadi kontroversi pada tahun itu. Sambil berdecak kagum karena bisa menimang buku yang ramai jadi perbincangan, saya menemukan buku Autobiography of Malcolm X satu tingkat di bawahnya. Terkesiap selama beberapa detik. Senang sekali rasanya. Harganya hanya 379 baht atau sekitar 140 ribu rupiah. Hanya tinggal satu kopi pula. Dengan sampul agak berdebu. Misi selesai. Skripsi akan segera selesai.

Sore di tahun 2009. Sore yang teduh seperti sore biasanya. Saya sedang mengunjungi rumah kos teman di mana saya sering menghabiskan waktu atau menumpang istirahat seusai mengajar di satu kampus swasta di Malang. Dengan senyum lebar, teman saya si kutubuku berambut kribo ini memamerkan buku yang baru ia dapatkan di pasar buku loak jalan Majapahit depan stasiun kereta api Malang Kota. Buku tersebut adalah buku yang membuat saya berlari-lari kencang di Malaysia, buku yang saya temukan tidak sengaja di saat membunuh kebosanan di Bangkok, buku yang turut mengubah hidup saya: The Autobiography of Malcolm X. Harganya hanya Rp17.000,00 pula. Bangsat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *